Sunday, 23 October 2016

Surat Sahabat di Pesantren

09:54 Posted by Bbhj , , , No comments
Assalamualaikum Wr. Wb 
Mar, bagaimana kabarmu? Semoga kamu tetap sehat wal afiat. Maaf alumni-an kemarin aku belum sempat berkunjung ke pondok dan ngopi bareng. Biasa mar, mahasiswa tingkat akhir sedikit lebay mengurusi tugas akhir. Biar nanti bisa dapat tambahan nama dibelakang nama hasil pemberian orang tuaku, hehe. Maka aku memutuskan untuk menulis surat saja, meski sudah ada facebook dan media sosial untuk saling sapa, tapi aku tak tertarik menggunakannya. Aku ingin mencoba metode jadul dalam bertegur sapa denganmu, lewat surat ini. 
Aku dengar, kau sekarang dekat dengan Akang. Aku senang mendengarnya mar, kemana-mana kau selalu menemani akang, dari desa ke desa, kota ke kota, menemani beliau ceramah dan memberikan pesan moral keagamaan. Kau jangan berkecil hati mar, profesi supir itu memang terkesan sebagai profesi rendahan, sedangkan menjadi supir kyai adalah kemulian, pahalanya berlipat-lipat. Dan kau pasti paham, bahwa yang kau lakukan bukanlah sebuah pekerjaan, tapi pengabdian. 
Aku hanya ingin sedikit bercerita mar, bahwa sekarang caraku memaknai kitab kuning berbeda. Kalo di Pondok kita dulu, “Mubtada” dimaknani “Ari”, “Khobar” dimaknani “Eta”, Sifat dimaknami “Anu”, sekarang disini aku harus melakukan beberapa pergantian CARA MAKNANI agar lebih mudah beradaptasi dalam pembelajaran. Sekarang “Mubtada” menjadi “Utawi”, “Khobar” menjadi “Iku”, “Sifat” menjadi “Kang”, dan lain-lain. Aku juga harus belajar bahasa jawa untuk berkomunikasi dengan sesama santri dan mahasiswa disini.  
Disini semua disiplin ilmu dipelajari. Tauhid, Nahwu, Shorof, Fiqh, dll dengan tingkatan kitab yang berbeda sesuai kelasnya. Kalau masih kelas ibtida, kitab yang dikaji mungkin mabadi fiqh, jurumiyah, tijan, dan kitab akhlak macam akhlaqul banin. Kitab yang dikaji akan semakin sulit ketika sudah naik kelas. Sistem begini ini berbeda dengan pondok kita dulu, yang terkonsentrasi belajar 1 disiplin ilmu itu saja sampai benar-benar tau luar dalam kitabnya. 
Kalo aku perhatikan mar, inilah yang membedakan antara sistem pendidikan pesantren di Jabar dan Jateng-Jatim. Di Jabar, kita akan kenal sebuah pesantren dengan spesifikasi khusus dalam suatu displin keilmuan, misalnya Pesantren Haurkuning Spesialis Ilmu Nahwu Shorof, Pesantren Manonjaya Spesialis Ilmu Ketauhidan, Pesantren Cikole Spesialis Ilmu Fiqh/Ushul Fiqh, Pesantren Suryalaya Spesialis Ilmu Thoriqoh & Tasawwuf, dll. Sedangkan kita tidak bisa mengklasifikasi pesantren di Jateng/Jatim dengan konsentrasi disiplin ilmu tertentu, meski ada beberapa pesantren yang juga demikian.
Mana yang lebih baik Mar? Menurutku sama-sama baik Mar. Tinggal bagaimana kita selaku santri mencoba untuk belajar mengikuti sistem yang dibangun.  Kalau dengan sistem ala Jawa Barat, kita akan sangat menguasai satu disiplin ilmu, namun perlu semacam ngetrip dulu ke pesantren-pesantren lainnya untuk memahami disiplin ilmu lainnya. Kau pasti lebih tau Mar, bagaimana mata rantai kajian kitab klasik di Jawa Barat itu saling berhubungan dari pesantren ke pesantren, sanadnya juga jelas. Beda denganku ini, yang mondoknya ala zaman pra-sejarah, pake sistem nomaden, alias pindah-pindah. Nah, kalo ala Jatim/Jateng, bisa dibilang, cukup satu pesantren saja. Karena didalamnya memuat sistem pengajian diniyyah yg kurikulumnya tertata. Dari Jurumiyah hingga Kawakib Dzurriyyah, dari Aqidatul Awam hingga Dasuqi Ummul Barohin. 
Begitulah asumsiku tentang khazanah kepesantrenan di Jawa Mar. Sistem dan kurikulum yang dibangun oleh tiap pesantren sering berbeda Mar, tapi setiap pesantren tidak pernah lepas dari koridor madzhabi dan manhaji Ahlussunnah Wal Jamaah. Dan yang terpenting, tidak ada istilah bentrok antar pesantren karena sebuah perbedaan, yang ada adalah saling membangun satu sama lain. Beda dengan SMA diluar sana, dikit-dikit ngajak ribut, ibarat dalam istilah perkoploan, senggol bacok. 
Di pesantren, akang selalu mengajarkan bagaimana kita harus menghormati perbedaan, aku masih ingat saat itu Mar. Akang bilang, dalam belajar kitab klasik, kita akan menemukan berbagai macam pendapat ulama yang mengambil kesimpulan yang berbeda. Beliau mencontohkannya dengan kalimat NIAT PUASA, dimana lafadz “ramadhan-nya” bisa dikasroh, bisa juga difathah. Aku tau betul itu Mar, ketika kita ditanyai akang, saat itu kau menjawab kasroh, sedangkan aku menjawab fathah. Dengan berbagai referensi yang kita lontarkan. Kita sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Setelah itu, akang menyela dan dengan santainya berbicara, bahwa keduanya adalah pendapat yang benar. Akhirnya kita hanya diam dan menganggukkan kepala akan penjelasan akang. Beliau menjelaskan sebuah pesan yang begitu mendasar dari lafadz “ramadhan” itu, HORMATILAH PERBEDAAN PENDAPAT. 
Hal ini tidak terdapat dalam konsep pembelajaran di sekolah umum Mar. Aku sungguh menyayangkan itu. Kau pasti juga masih ingat, bagaimana buku sejarah di sekolah dulu memberitakan kebrutalan PKI dalam tragedi G30S. Kita digambarkan bahwa GERWANI itu pesta seks dan memotong kemaluan para Pahlawan Revolusi itu. Kau mungkin sampai sekarang masih menganggap itu adalah kebenaran, namun tidak denganku. Kau harus tau Mar, kalo ternyata buku sejarah itu karangan fiktif orde baru, untuk menghilangkan kesan baik apapun terkait PKI di masyarakat. Sehingga pak Harto bisa langgeng berkuasa. Kalau kau tidak percaya, nanti aku kirimi buku-bukunya, kau harus baca itu. Bukan berarti aku simpatisan atau membela PKI, tapi kau harus tau, ini tentang membongkar kebohongan yang kejam. Selain itu, sistem pembelajaran sejarah itu sangat tidak mencerminkan penghargaan akan indahnya perbedaan dan keberagaman.
Ah, sistem pendidikan sekolah umum ini aku tak habis pikir Mar, kenapa mereka tidak mau mencoba belajar dan mengakomodasi sistem pesantren. Malah mengikuti sistem pendidikan gak jelas, yang akhirnya menelurkan benih-benih intoleran dan radikalisme, bahkan mengancam persatuan negara kita. Lihat saja bentrokan antar SMA itu. Kau pasti tidak rela kalau negeri ini hancur, karena kakekmu yang kyai itu juga termasuk komandan pasukan Hizbullah, pembela NKRI. Kau harus tau, islam radikal lahir bukan dari pondok pesantren, melainkan siswa-siswa di sekolah umum yang tersesat ketika berkuliah, yang merasa paling islam ketika berdialog dengan istilah ‘ana’ dan ‘antum’. Mereka tidak tau bagaimana sistem pondok pesantren berjalan, meskipun mengkaji kitab-kitab berbahasa arab, pesantren mengkajinya dengan konsep maknani dengan bahasa jawa/sunda pegon. Sangat menghargai budaya bukan? 
Sepertinya hanya mimpi ketika melihat menteri pendidikan mengadopsi sistem pesantren untuk diterapkan sekolah umum. Bisa-bisa, kemandirian dan kedaulatan Indonesia akan tercapai, hingga Tenaga Kerja kita di luar negeri itu bukan menjadi babu rumah tangga, tapi menjadi Tenaga Kerja yang sangat dibutuhkan dari sisi intelektualitas. Huft, Sepertinya aku terlalu berkhayal mar, hehe.
Sudah dulu ya Mar, kapan-kapan aku kunjungi kamu. Sukseslah dalam pengabdianmu. Kabarnya kau sudah dapat restu untuk menikahi Dina. Kalau memang begitu, aku ucapkan selamat dan Alhamdulillah untuk kau dan Dina. Jangan lupa mengundang sahabatmu ini. Oh iya Mar, sekarang hari santri, ayo sama-sama kita ramaikan peringatan itu, dengan doa dan aksi bersama. Semoga Indonesia bisa lebih baik kedepan, sehingga anak-anak kita kelak bisa menuai hasilnya dan menikmatinya.


Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamu’alaikum Wr.Wb


Sahabatmu,
Bejo

0 comments:

Post a Comment