Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Wednesday, 25 January 2017

Kampanye (Anti) Arab

18:28 Posted by Bbhj , , No comments
Kemarin, baru saja saya membaca pesan di grup WA Ngaji Aswaja NU mengenai perilaku kehidupan dan saat kematian Mustafa Kemal Attaturk, Revolusioner dan Bapak Bangsa Turki.

Pesan itu menceritakan Attaturk yg sangat an ti-Arab dengan gagasan sekuler-radikal nya. Mengganti Adzan dengan bahasa turki, melarang pakaian 'kearab-araban, hingga membunuh ulama-ulama yg tidak sepaham dengannya. Kemudian diceritakan bahwa "SI ANTI ARAB" ini diakhir hayatnya menderita berbagai macam penyakit, kemudian disebut bahwa bumi tidak menerima jasad Attaturk, sehingga Attaturk tidak dikebumikan, melainkan jasadnya hanya ditanam di celah-celah batu marmer.

Diakhir pesan grup itu, si penyebar menulis : " Begitulah kematian si Anti Arab, ada yang mau mengikutinya?"

Saya memandang pesan ini sangat tendensius. Mencoba mendogmatisasi umat muslim, khususnya Nahdliyyin untuk menjauhi NU dan Kyainya secara perlahan.

Pesan itu mencoba menipu pemahaman kita akan apa yang diperjuangkan NU. Harus kita pahami, bahwa apa yang dikampanyekan NU bukanlah kampanye anti-Arab atau bahkan program sekularisme seperti yg dilakukan Kamal Atatturk di Turki. Yang dilakukan NU dalam melindungi tradisi Nusantara dan mengintegrasikannya dengan praktik keagamaan islam adalah bahwa NU sangat memahami akan pentingnya budaya sebagai pondasi kemajuan suatu bangsa. Sehingga budaya hari ini, termasuk dalam praktik asimilasi kebudayaan dan religiusitas harus dilindungi sebagai identitas dan local wisdom.

Sedangkan apa yang dilakukan Attaturk terhadap Turki adalah dengan tidak mengakui islam sebagai agama yang memiliki nilai progresivitas dalam membangun bangsa. Ia meminggirkan islam ke pojokan dan memandang islam sebagai agama yang tidak bisa mendukung kemajuan dalam praktik bernegara. Hal ini jelas jauh berbeda dengan pemahaman NU dimana NU mengimani bahwa nilai-nilai keislaman memiliki ruh yang berkemajuan sebagai modal bagi bangsa kita untuk tetap kokoh bersatu dan terus melaju. Terbukti dengan diterimanya Pancasila sebagai ideologi negara dan meyakini bahwa didalam Pancasila mengandung nilai-nilai inklusif islam yang layak diperjuangkan oleh seluruh elemen Nahdliyyin Nusantara.

Selain itu, mengenai klaim anti-Arab secara tidak langsung pada NU, tuan-tuan dan puan-puan bisa cek di pesantren-pesantren NU, bahwa pembelajaran awal yang dilakukan adalah pembelajaran bahasa arab melalui kitab-kitab klasik macam Jurumiyah, Imrithi, Al Maqshud, Alfiyyah Ibn Malik, dan Amtsilah Tasrifiyyah. Termasuk pesantren almamater saya sendiri yang memiliki kekhasan takhossus Ilmu Bahasa Arab.

Bagaimana bisa NU anti-Arab dengan mempelajarinya. Sama dengan tuan tidak menyukai kopi, tetapi tetap meminumnya. 😁

Mengenai relasi Arab dan Islam, bahwa islam memiliki kaitan dengan arab, tapi tidak selalu yang berbau arab itu islam.

"Kelapa memang bulat, tapi tidak setiap yg bulat itu kelapa."

Jadi, sudahlah, jangan sampai kita mau dijauhkan dari NU dan para kyai dengan asumsi dangkal dan penggiringan opini kaum sumbu pendek, bahwa NU sedang melakukan kampanye anti-Arab. NU hanya sedang mengajak kita untuk bangga menjadi umat islam dan bangsa indonesia yang berkepribadian.

Anti Arab memang salah, karena seharusnya Huwa Arab atau Anti Arabti, hehe

Wallahua'lam.

Salam.

Sunday, 23 October 2016

Surat Sahabat di Pesantren

09:54 Posted by Bbhj , , , No comments
Assalamualaikum Wr. Wb 
Mar, bagaimana kabarmu? Semoga kamu tetap sehat wal afiat. Maaf alumni-an kemarin aku belum sempat berkunjung ke pondok dan ngopi bareng. Biasa mar, mahasiswa tingkat akhir sedikit lebay mengurusi tugas akhir. Biar nanti bisa dapat tambahan nama dibelakang nama hasil pemberian orang tuaku, hehe. Maka aku memutuskan untuk menulis surat saja, meski sudah ada facebook dan media sosial untuk saling sapa, tapi aku tak tertarik menggunakannya. Aku ingin mencoba metode jadul dalam bertegur sapa denganmu, lewat surat ini. 
Aku dengar, kau sekarang dekat dengan Akang. Aku senang mendengarnya mar, kemana-mana kau selalu menemani akang, dari desa ke desa, kota ke kota, menemani beliau ceramah dan memberikan pesan moral keagamaan. Kau jangan berkecil hati mar, profesi supir itu memang terkesan sebagai profesi rendahan, sedangkan menjadi supir kyai adalah kemulian, pahalanya berlipat-lipat. Dan kau pasti paham, bahwa yang kau lakukan bukanlah sebuah pekerjaan, tapi pengabdian. 
Aku hanya ingin sedikit bercerita mar, bahwa sekarang caraku memaknai kitab kuning berbeda. Kalo di Pondok kita dulu, “Mubtada” dimaknani “Ari”, “Khobar” dimaknani “Eta”, Sifat dimaknami “Anu”, sekarang disini aku harus melakukan beberapa pergantian CARA MAKNANI agar lebih mudah beradaptasi dalam pembelajaran. Sekarang “Mubtada” menjadi “Utawi”, “Khobar” menjadi “Iku”, “Sifat” menjadi “Kang”, dan lain-lain. Aku juga harus belajar bahasa jawa untuk berkomunikasi dengan sesama santri dan mahasiswa disini.  
Disini semua disiplin ilmu dipelajari. Tauhid, Nahwu, Shorof, Fiqh, dll dengan tingkatan kitab yang berbeda sesuai kelasnya. Kalau masih kelas ibtida, kitab yang dikaji mungkin mabadi fiqh, jurumiyah, tijan, dan kitab akhlak macam akhlaqul banin. Kitab yang dikaji akan semakin sulit ketika sudah naik kelas. Sistem begini ini berbeda dengan pondok kita dulu, yang terkonsentrasi belajar 1 disiplin ilmu itu saja sampai benar-benar tau luar dalam kitabnya. 
Kalo aku perhatikan mar, inilah yang membedakan antara sistem pendidikan pesantren di Jabar dan Jateng-Jatim. Di Jabar, kita akan kenal sebuah pesantren dengan spesifikasi khusus dalam suatu displin keilmuan, misalnya Pesantren Haurkuning Spesialis Ilmu Nahwu Shorof, Pesantren Manonjaya Spesialis Ilmu Ketauhidan, Pesantren Cikole Spesialis Ilmu Fiqh/Ushul Fiqh, Pesantren Suryalaya Spesialis Ilmu Thoriqoh & Tasawwuf, dll. Sedangkan kita tidak bisa mengklasifikasi pesantren di Jateng/Jatim dengan konsentrasi disiplin ilmu tertentu, meski ada beberapa pesantren yang juga demikian.
Mana yang lebih baik Mar? Menurutku sama-sama baik Mar. Tinggal bagaimana kita selaku santri mencoba untuk belajar mengikuti sistem yang dibangun.  Kalau dengan sistem ala Jawa Barat, kita akan sangat menguasai satu disiplin ilmu, namun perlu semacam ngetrip dulu ke pesantren-pesantren lainnya untuk memahami disiplin ilmu lainnya. Kau pasti lebih tau Mar, bagaimana mata rantai kajian kitab klasik di Jawa Barat itu saling berhubungan dari pesantren ke pesantren, sanadnya juga jelas. Beda denganku ini, yang mondoknya ala zaman pra-sejarah, pake sistem nomaden, alias pindah-pindah. Nah, kalo ala Jatim/Jateng, bisa dibilang, cukup satu pesantren saja. Karena didalamnya memuat sistem pengajian diniyyah yg kurikulumnya tertata. Dari Jurumiyah hingga Kawakib Dzurriyyah, dari Aqidatul Awam hingga Dasuqi Ummul Barohin. 
Begitulah asumsiku tentang khazanah kepesantrenan di Jawa Mar. Sistem dan kurikulum yang dibangun oleh tiap pesantren sering berbeda Mar, tapi setiap pesantren tidak pernah lepas dari koridor madzhabi dan manhaji Ahlussunnah Wal Jamaah. Dan yang terpenting, tidak ada istilah bentrok antar pesantren karena sebuah perbedaan, yang ada adalah saling membangun satu sama lain. Beda dengan SMA diluar sana, dikit-dikit ngajak ribut, ibarat dalam istilah perkoploan, senggol bacok. 
Di pesantren, akang selalu mengajarkan bagaimana kita harus menghormati perbedaan, aku masih ingat saat itu Mar. Akang bilang, dalam belajar kitab klasik, kita akan menemukan berbagai macam pendapat ulama yang mengambil kesimpulan yang berbeda. Beliau mencontohkannya dengan kalimat NIAT PUASA, dimana lafadz “ramadhan-nya” bisa dikasroh, bisa juga difathah. Aku tau betul itu Mar, ketika kita ditanyai akang, saat itu kau menjawab kasroh, sedangkan aku menjawab fathah. Dengan berbagai referensi yang kita lontarkan. Kita sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Setelah itu, akang menyela dan dengan santainya berbicara, bahwa keduanya adalah pendapat yang benar. Akhirnya kita hanya diam dan menganggukkan kepala akan penjelasan akang. Beliau menjelaskan sebuah pesan yang begitu mendasar dari lafadz “ramadhan” itu, HORMATILAH PERBEDAAN PENDAPAT. 
Hal ini tidak terdapat dalam konsep pembelajaran di sekolah umum Mar. Aku sungguh menyayangkan itu. Kau pasti juga masih ingat, bagaimana buku sejarah di sekolah dulu memberitakan kebrutalan PKI dalam tragedi G30S. Kita digambarkan bahwa GERWANI itu pesta seks dan memotong kemaluan para Pahlawan Revolusi itu. Kau mungkin sampai sekarang masih menganggap itu adalah kebenaran, namun tidak denganku. Kau harus tau Mar, kalo ternyata buku sejarah itu karangan fiktif orde baru, untuk menghilangkan kesan baik apapun terkait PKI di masyarakat. Sehingga pak Harto bisa langgeng berkuasa. Kalau kau tidak percaya, nanti aku kirimi buku-bukunya, kau harus baca itu. Bukan berarti aku simpatisan atau membela PKI, tapi kau harus tau, ini tentang membongkar kebohongan yang kejam. Selain itu, sistem pembelajaran sejarah itu sangat tidak mencerminkan penghargaan akan indahnya perbedaan dan keberagaman.
Ah, sistem pendidikan sekolah umum ini aku tak habis pikir Mar, kenapa mereka tidak mau mencoba belajar dan mengakomodasi sistem pesantren. Malah mengikuti sistem pendidikan gak jelas, yang akhirnya menelurkan benih-benih intoleran dan radikalisme, bahkan mengancam persatuan negara kita. Lihat saja bentrokan antar SMA itu. Kau pasti tidak rela kalau negeri ini hancur, karena kakekmu yang kyai itu juga termasuk komandan pasukan Hizbullah, pembela NKRI. Kau harus tau, islam radikal lahir bukan dari pondok pesantren, melainkan siswa-siswa di sekolah umum yang tersesat ketika berkuliah, yang merasa paling islam ketika berdialog dengan istilah ‘ana’ dan ‘antum’. Mereka tidak tau bagaimana sistem pondok pesantren berjalan, meskipun mengkaji kitab-kitab berbahasa arab, pesantren mengkajinya dengan konsep maknani dengan bahasa jawa/sunda pegon. Sangat menghargai budaya bukan? 
Sepertinya hanya mimpi ketika melihat menteri pendidikan mengadopsi sistem pesantren untuk diterapkan sekolah umum. Bisa-bisa, kemandirian dan kedaulatan Indonesia akan tercapai, hingga Tenaga Kerja kita di luar negeri itu bukan menjadi babu rumah tangga, tapi menjadi Tenaga Kerja yang sangat dibutuhkan dari sisi intelektualitas. Huft, Sepertinya aku terlalu berkhayal mar, hehe.
Sudah dulu ya Mar, kapan-kapan aku kunjungi kamu. Sukseslah dalam pengabdianmu. Kabarnya kau sudah dapat restu untuk menikahi Dina. Kalau memang begitu, aku ucapkan selamat dan Alhamdulillah untuk kau dan Dina. Jangan lupa mengundang sahabatmu ini. Oh iya Mar, sekarang hari santri, ayo sama-sama kita ramaikan peringatan itu, dengan doa dan aksi bersama. Semoga Indonesia bisa lebih baik kedepan, sehingga anak-anak kita kelak bisa menuai hasilnya dan menikmatinya.


Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamu’alaikum Wr.Wb


Sahabatmu,
Bejo

Tuesday, 18 October 2016

Hikayat Aliran Shareiyyah Komentariyyah

23:45 Posted by Bbhj , , , No comments
Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

Selamat malam sahabat. Selamat Malam Madiun, Kereta yg mengantarkan saya pulang kebetulan sudah sampai Madiun, Kota yang namanya saya kenal dari Buku Sejarah SD/SMP/SMA tentang pemberontakan PKI dulu. Sekarang saya kebetulan berkuliah di Malang, Kota yang satu provinsi dengan Madiun. Karena secara geografis cukup dekat, maka tak heran kalau teman-teman saya di Malang, ada yg berasal dari madiun. Pertama kali melihat mereka, teman-teman madiun saya itu, saya sama sekali tak melihat ada wajah-wajah pelaku atau korban pemberontakan PKI dulu. Mereka tampak baik-baik saja, tetap guyon dengan saya yang secara biologis berdarah Nahdliyyin ini.
Mereka mungkin terlihat baik-baik saja karena memang tidak mengalami masa pemberontakan itu. Itu sudah lama sekali. Katanya, pelaku 1948 juga sudah diadili, rekonsiliasi sudah dilakukan. Berbeda dengan tragedi 1965, yang sampai hari ini, tuntutan korban belum terpenuhi, tindakan diskriminatif terhadap "terduga" PKI juga masih banyak terjadi, pembredelan diskusi pengungkapan tragedi itu juga masih sering saya jumpai. Kata salah seorang yg pernah saya temui, kalo mau ngobrol terkait PKI, harus pintar mem-framming acara, jangan sampai lebay meng-share info diskusinya. Kalo terlalu lebay, tamatlah kau ditangan intel.
Berbicara mengenai kata "Share", hari ini sudah sangat familiar. Bagi pemakai media sosial Facebook di Android, kata share ada di pojok kanan bawah setiap status. Kalo facebook sahabat-sahabat pembaca berbahasa indonesia, tidak akan ditemui tulisan "Share", kata "share" diganti dengan kata "Bagikan". Meskipun berbeda, artinya sama saja. Jangan sampai karena saya lebih sering menggunakan kata "share" dibandingkan kata "bagikan", sahabat-sahabat share tulisan ini dengan kutipan berikut : "Tulisan ini adalah tulisan antek Amerika, agen CIA, anti-nasionalisme, karena lebih sering menggunakan kata SHARE, daripada kata BAGIKAN." Lha wong saya ini orang biasa, kok disebut agen, bahkan untuk disebut agen of change ala mahasiswa pun, saya belum pantas.
Sebenarnya begini lho, Saya hanya sedikit ingin bercerita tentang suatu hikayat, suatu waktu, saya melihat status yang berisi tautan yang provokatif. Begini tulisannya, "#&$(_/)&!@:;$(#!_;@))?;;™℅€{}•¶¢[£℅°=¥{¢}¶=√∆∆\[]℅©™®£[~{.". Aduh, saking banyaknya saya lupa, intinya, ada 3 jenis status yang akan ramai di media sosial macam FB di Indonesia, Pertama, status yang meminta Like, share dan Amin, Kedua, status Jonru, cs., Ketiga, status yang mendukung karepe mayoritas, apapun dan bagaimanapun isi kontennya. Entahlah, saya gak paham betul caranya membagikan jenis/kategori, yang pasti, status-status itu biasanya di-share hingga ribuan kali, komentarnya bisa sampai puluhan ribu. Komentarnya pasti macam-macam, ada yang ngomong "BANGSAT, JANCUK, ANJING LU, AGAMA LU APA TAI!", ada juga yang mencoba menengahi dan moderat, "Udah bro, gak usah diladenin orang GAK PUNYA OTAK kayak dia, otaknya udah ketuker sama BABI dia mah", ada lagi yang imannya paling lemah, alias adh'aful iman, nama fb nya hanya muncul diatas postingan "Hindun menyukai status Zaidun. Nah, Zaidun lah imam aliran shareiyyah dan komentariyyah, dialah Assabiqunal Awwalun statusnya dengan menuliskan "INDONESIA DALAM CENGKRAMAN SYIAH, KITA SEBAGAI UMAT MUSLIM JANGAN HANYA DIAM!", Dibawahnya terpampang tautan yg bertuliskan "QURAISY SYIHAB SEBARKAN PAHAM SYIAH DALAM SETIAP CERAMAHNYA". Dengan bangganya, zaidun meng-share statusnya, dengan harapan, banyak orang yang mengikutinya, masuk ke dalam surga versi si Zaidun. Padahal, si Zaidun hanya mendapat berita itu dari website alamak.xyz, waduh! Situs opo iku? Belum lagi, ternyata si Zaidun ini gak pernah mesantren. Pernah sih, katanya dia belajar ilmu agama di Rohis, sebutan Ekskul keagamaan di SMA-SMA. 
Alhamdulillah nih, setiap status si zaidun sekarang sudah ribuan yang share, dan puluhan juta yang komentar. Sehingga, dia mendapat gelar "Imam Asshareiyyah Wal Komentariyyah" Pemimpin alirah Shareiyyah Komentariyyah. Selain si Zaidun, masih banyak imam-imam lain dari aliran ini, jumlahnya ribuan.
Ada lagi cerita Imam aliran Shareiyyah dan Komentariyah selain zaidun, kiprahnya juga cukup luar biasa dibanding Zaidun. Penasaran? Siapa dia? Bagaimana kiprahnya? (JANGAN) DITUNGGU KELANJUTANNYA! Karena kelanjutannya adalah realitas praktek bermedia dan besosial kita, termasuk saya. 

Wallahua'lam.

Kereta Malam, 18/10/2016
23.11 WIB

Sunday, 22 May 2016

Terjebak dalam Simbolitas yang Semu : Distorsi Relasi Eksistensi-Esensi

01:52 Posted by Bbhj , , , No comments
Oleh : Fawwaz M. Fauzi

           
       Berbicara mengenai simbolitas, maka kita akan berpikir mengenai simbol-simbol. Simbol ini bisa diartikan sebagai lambang yang mewakili sesuatu yang ada (eksis) dan berada (esensi). Simbolitas biasanya adalah sebuah manifestasi dari suatu ideologi bahkan tradisi yang melekat dan dijadikan landasan fanatisme terhadap sebuah tradisi/ideologi yang diyakini. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diartikan bahwa simbol adalah brand (lambang) yang digunakan oleh seseorang maupun komunal untuk mendeskripsikan suatu ideologi, gagasan maupun tradisi yang dianutnya. Secara praktis, kita mampu mengenali GARUDA sebagai simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana simbol tersebut mendeskripsikan landasan ideologi Indonesia itu sendiri, yakni PANCASILA.
            Seperti yang dijelaskan diatas, simbolitas adalah mewakili eksistensi dan esensi, sehingga simbol bukanlah hanya sekedar ada atau eksis saja, melainkan memiliki nilai esensi pula didalamnya. Dalam proses kita bernegara, simbolitas yang dibangun sudah kemudian mewakili kedua hal tersebut, dimana Indonesia adalah sesuatu yang ada, bukan tidak ada (tentu dalam konteks fenomena, bukan nomena), dan secara esensi pun, Indonesia ada, dimana terdapat rakyat, wilayah, pemerintahan yang berdaulat, dan pengakuan dari negara lain. Penulis teringat ketika dulu belajar PKn, dimana rakyat, wilayah, pemerintahan yang berdaulat dan pengakuan dari negara lain adalah kriteria sebuah negara sah dan bisa diakui baik secara de facto maupun de jure.
            Dalam konteks relasinya, esensi dan eksistensi sangatlah erat berkaitan. Esensi sangat membutuhkan eksistensi. Tanpa eksistensi, esensi bukanlah apa-apa, karena esensi (hakikat) memerlukan keberadaan yang mewakilinya. Begitu pula eksistensi sangat membutuhkan esensi, karena tanpa esensi, keberadaannya menjadi tidak bernilai dan dipertanyakan (absurd). Sebagai contoh, kita mengenal tanah jawa, tanah toraja, tanah pasundan yang kesemuanya masuk dalam tatanan esensi dan secara eksistensi adalah sama-sama tanah. Pembaca boleh cek, dalam iklim dan kondisi (tekanan & suhu) yang sama, tanah jawa dan pasundan tidaklah memiliki perbedaan dalam konteks eksistensinya (dalam kajian inderawi), namun secara esensi, jelaslah berbeda (ditinjau dari segi karakteristik penduduk dan tradisi sosial kemasyarakatannya). Ketika nilai esensi dan eksistensi sudah berpadu, maka akan muncul sebuah simbolitas yang diangkat atas nama kedua hal tersebut. Menurut penulis, keadaan tersebut merupakan keadaan yang sangat ideal, dimana simbolitas diangkat dengan jalan yang konstruktif yang merepresentasikan relasi sempurna dari kedua hal tersebut.
            Namun, dalam realitas kehidupan kita bermasyarakat, seringkali penulis menemukan sebuah fenomena yang tidak dalam kondisi yang konstruktif dan terkesan timpang. Simbolitas yang diangkat banyak yang tidak mewakili eksistensi dan esensi. Simbolitas seringkali diangkat hanya atas nama eksistensi tanpa dibarengi dengan suatu esensi yang jelas, sehingga terjadilah sebuah distorsi atas relasi kedua hal tersebut. Kita dapat melihat ini dalam berbagai praktek bermasyarakat, baik praktek pendidikan, pemerintahan, beragama, berorganisasi, dan lain-lain.
Sebagai contoh, penulis mencoba melihat fenomena sertifikasi, akreditasi, dan penilaian. Sebenarnya, sertifikasi, akreditasi dan penilaian adalah sebuah usaha simbolitas yang bernilai eksistensi untuk mencapai esensi yang diharapkan. Namun dalam praktiknya, entah disadari atau tidak, subjek maupun objek dari akreditasi, sertifikasi dan nilai seringkali berpikir subjektif dan parsial dalam memandang eksistensi dan esensi, mereka cenderung hanya berpikir atas eksistensi dan melemahkan posisi dari esensi yang sejatinya adalah sesuatu yang juga penting dalam suatu praktik akreditasi. Yang penting dapat akreditasi A, sertifikasi internasional dan nilai bagus, bagaimanapun caranya, entah dengan membuat kebohongan besar demi mendapatkan hal tersebut  demi kejayaan simbolnya. Menurut hemat penulis, praktik seperti ini jelas-jelas menghancurkan tradisi konstruktif-intelektual, dan mendewakan kebiasaan buruk berupa pemikiran destruktif-pragmatis yang berdampak pada lemahnya integritas dan intelektualitas yang seharusnya dimiliki oleh pemuja-pemuja simbol.
Begitu pula penulis melihat fenomena dalam praktek beragama yang cenderung mengagungkan eksistensi tanpa memperhatikan eksistensinya secara matang. Sangat marak kita lihat, bahkan di dunia pendidikan seperti kampus, praktik-praktik beragama dibawa ke ranah simbolitas yang tidak menyeimbangkan antara eksistensi dan esensi secara cerdas dan cermat. Eksistensi yang terlalu diagungkan membawa mereka kedalam praktek-praktek radikalisasi yang secara tidak langsung membawa mereka terjebak ke dalam simbolitas yang semu. Mungkin pembaca akan bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? bahkan di dunia pendidikan yang seharusnya menciptakan kaum-kaum terdidik yang (seharusnya lagi) mampu memahami hal ini? Entahlah, mungkin karena para pendidiknya pun ada yang sudah menjadi tersangka dan terdakwa dalam kasus simbolitas semu ini. Terus bagaimana? Penulis juga tidak tahu.
Selain praktik tersebut, masih banyak praktik-praktik sejenis dalam keseharian kita yang seharusnya penulis dan pembaca sadari untuk kemudian di transformasikan menjadi praktik-praktik yang mampu memposisikan relasi esensi dan eksistensi secara adil. Penulis kemudian teringat dengan sebuah kalimat yang tertulis dalam sebuah jaket saat penulis jalan-jalan yang berbunyi, “Dont think to be the best, but think to do the best”, yang berarti “Janganlah berpikir untuk menjadi yang terbaik, namun berpikirlah untuk melakukan yang terbaik”. Dalam kacamata penulis, statemen ini sangatlah keren, dimana secara implisit, statemen ini memposisikan eksistensi dan esensi secara sepadan, meski ketika kita baca secara tekstual, kita hanya akan melihat adanya pengebirian atas eksistensi. Berangkat dari hal tersebut, semoga penulis dan pembaca sekalian termasuk makhluk yang mampu menyeimbangkan eksistensi (gelar, nilai, akreditasi, IPK, brand, dll) dan esensi (hakikat dari gelar, nilai, akreditasi, IPK, brand, dll). Semoga.

Wallahu a’lam.

Sunday, 27 December 2015

Menjadi Primordialis yang Bijaksana

17:06 Posted by Bbhj , , , , No comments
Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

"Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan benar" ~ Imam Asy-Syafi'i

Selamat Dini Hari Kota Malang, kota yang ramai akan perbedaan. Dimana hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh banyaknya pengungsi akademik yang hijrah ke Kota Malang. Keberagaman Kota Malang adalah hal yang tak mungkin terelakkan, berbagai macam ras, suku, budaya, dan agama berbaur dalam suatu wilayah bernama Kota Malang.
Sejatinya, tak hanya kota malang saja yang memiliki warna warni keberagaman. Dalam konteks yang paling sederhana saja, perbedaan akan sangatlah tampak apabila kita mencoba mengamatinya secara mendalam. Seperti halnya dua bersaudara yang kembar identik, apabila kita mengamatinya dengan seksama atau mungkin karena telah terbiasa, kita dapat melihat banyak perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikis. Sehingga, dari dua bersaudara itu saja, nampaklah perbedaan dan keberagaman dari berbagai sisi. Namun, ketika kita tak mengamatinya secara seksama, kita akan menganggap sang kembar identik itu sama dengan kembarannya. Tak ada perbedaan apapun.
Dari suatu sampel diatas, semisal kita adalah orang tuanya, apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi perbedaan dari si kembar yang katanya kembar identik? Apakah kita harus mengunggulkan salahsatunya? Apakah kita harus pilih kasih? Penulis kira, hal yang paling  bijak adalah dengan bersikap toleran, moderat, seimbang dan adil terhadap keduanya. Dengan begitu, kita telah bersikap bijaksana terhadap dua hal dimana kita tidak termasuk dalam sistemnya. Dan penulis fikir, ini adalah sikap yang sedikit mudah untuk direalisasikan dalam kehidupan bersosial kita.
Lantas, bagaimana ketika dalam keberagaman, kita termasuk dalam sistem tersebut? Semisal kita adalah bagian dari si kembar identik? Apakah kita harus kemudian mengunggulkan diri sendiri dan menjatuhkan kembaran kita? Atau malah sebaliknya? Bagaimana kita bersikap? Penulis kira, sikap yang paling bijak dalam menyikapinya adalah bersikap santai dan tetap berpegang teuh pada sikap toleran, moderat, seimbang dan adil. Selain itu, kita harus pula memegang prinsip, “Maju tanpa menyingkirkan orang lain, naik tanpa menjatuhkan orang lain, dan berbahagia tanpa menyakiti orang lain”. Sehingga, kita dapat hidup secara damai dan tetap bergandengan tangan meski banyak perbedaan pada diri kita dan orang lain. Namun, hal ini agaknya lebih sulit daripada ketika kita berada diluar system seperti pada perumpamaan pertama. Didalam sistem dimana kita termasuk kedalam sebuah bagian yang harus kita pertahankan adalah menjadi PR yang besar bagi kita semua untuk menjunjung tinggi keberagaman sebagai sunnatullah. Karena apabila kita tidak mampu untuk kemudian menghargai keberagaman, dampak sosialnya akanlah sangat besar. Hal ini disebabkan karena adanya sikap primordialis dan etnosentris dari diri kita masing-masing selaku actor sosial dalam sistem.
Primordialis adalah suatu sikap dimana kita memiliki kecenderungan dalam membela suatu golongan, terlebih kita termasuk kedalam golongan tersebut. Sedangkan etnosentris adalah sikap dimana suatu permasalahan hanya dilihat dari sudut pandang subjektif si pelaku primordial. Namun, sikap primordialis bukanlah hal negatif yang harus kita jauhi. Primordialis berbicara tentang pilihan hidup, dimana hidup adalah tentang bagaimana kita memilah dan memilih dengan berbagai pertimbangan rasional maupun irasional. Ketika kita sudah memilih satu pilihan, ada nilai-nilai substansial yang harus kita perjuangkan dan pertahankan sebagai konsekuensi dari pilihan tersebut. Sehingga kita secara tidak langsung diwajibkan untuk bersikap primordialis. Seperti contoh dalam hal beragama, penulis memilih beragama Islam dan sudah barang tentu menjadi kewajiban penulis untuk memperjuangkan dan mempertahankan nilai-nilai keislaman.
Selain dalam beragama, kita juga mengenal perbedaan-perbedaan dalam perihal suku, keturunan, klan, marga, organisasi, kelompok suporter, aliran, genre music, hobby, dan lain-lain. Kesemuanya adalah hal-hal yang secara tidak langsung mewajibkan kita untuk bersikap primordialis untuk memperjuangkan nilai-nilai yang menjadi alasan primordialis kita. Sehingga, menurut penulis, bersikap primordialis adalah sesuatu yang sah sah saja dalam kehidupan bersosial.
Namun, dibalik sikap primordialis yang ada. Banyak sisi-sisi negatif yang nampak, dimana hal tersebut dipengaruhi oleh mainset-mainset etnosentris yang berlebihan. Hal ini berdampak terhadap kehidupan sosial yang menjadi kacau dan tidak equilibrium. Perbedaan yang seharusnya menjadi hal yang patut kita syukuri, berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan dan nyaris tanpa ujung. Sebagai contoh, kita ketahui permusuhan yang terjadi antara blok barat (kapitalisme) dan blok timur (komunisme) pada saat perang dunia I dan II. Bahkan hingga saat ini, sisa-sisa permusuhan tersebut masih sangat sering kita dengar, walau masih dalam bahasa-bahasa konspirasi. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kita pasti mengetahui perseturuan antar suku di Indonesia, seperti halnya sunda dan jawa yang menurut berbagai sumber, bermula dari peristiwa perang bubat, dimana rombongan mempelai wanita dari kerajaan Sunda bernama Dyah Pitaloka yang akan dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, dihabisi di lapangan bubat oleh prajurit Majapahit. Percaya atau tidak, hingga saat ini, sedikit sesepuh-sesepuh kita di tanah sunda dan jawa masih menganggap, pernikahan antara sunda dan jawa adalah suatu hal yang pamali untuk dilakukan. Masih dalam sampel permusuhan, kita juga mengetahui perseteruan antar organisasi mahasiswa PMII dan HMI, perseteruan antar suporter sepak bola (Viking vs The Jakmania, Aremania vs Bonek).
Dari berbagai contoh diatas, kita sejatinya dapat mengambil benang merah, dimana perseteruan-
perseteruan tersebut lahir dari sikap primordialis yang kurang bijaksana dan adanya etnosentrisme yang berlebihan. Merasa kelompoknya adalah yang paling benar dan akan membunuh siapapun yang berbeda dari apa yang dia pilih. Menurut penulis, ini adalah pemikiran yang sangat primitif dan tidak bijaksana. Hal ini wajib untuk kita tinggalkan, sikap primordialis yang tidak bijaksana.
Lantas bagaimanakah kita harus bersikap sehingga primordialisme kita tidak menyebabkan etnosentrisme berlebihan yang menyebabkan intolerasi terhadap sesama? Sebelumnya, lagi-lagi kita harus memahami, bahwa perbedaan adalah sebuah rahmat dari Allah SWT yang wajib kita syukuri. Allah juga memerintahkan kita untuk saling mengenal, mengerti dan memahami satu sama lain, tanpa perlu mengorbankan eksistensi primordialisme kita (Waja’alnakum syu’uban waqobaa’ila lita’arofuu). Seperti halnya dengan apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat dari penulis di Komunitas Gusdurian Malang, dimana sahabat-sahabat GD mengunjungi gereja dalam perayaan natal kemarin untuk menunjukkan rasa saling mengerti, memahami, dan toleran, tentunya tanpa mengorbankan eksistensi primordialis keislamannya. Mereka tetap bagian dari Islam meskipun mereka datang ke Gereja, karena tidak kemudian mengubah keyakinan mereka akan kebenaran Islam. Dengan demikian, keberagaman menjadi sesuatu yang indah, sesuatu yang sangat menyejukkan, berharga, memberikan rasa aman terhadap sesama dan patut kita syukuri bersama. Tidak kemudian menjadi modal permusuhan antar sesama, seperti yang banyak terjadi belakangan ini.
Kita sebagai bangsa Indonesia, dimana Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, berbagai macam tradisi, dan berbagai macam keyakinan beragama, sangat rentan akan perpecahan dan konflik akibat sikap primordialis yang tidak bijaksana. Sehingga, sudah sepatutnya kita bersama-sama menghargai perbedaan atas sesama. Seperti semboyan negara kita “Bhinneka Tunggal Ika, (Berbeda-beda tapi tetap satu jua)”, mari kita bersatu dalam perbedaan, menuju Indonesia berkemajuan. Dan mari kita junjung tinggi sifat Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), Tawassuth (moderat), dan Ta’addul (adil) sehingga kita dapat menjadi seorang primordialis yang bijaksana. Wallahu a’lam.


Malang, 26/12/15 03.05 WIB

Saturday, 12 December 2015

SANG DOSEN MENYOAL “SELAMAT SIANG”

14:30 Posted by Bbhj , , , , 4 comments
Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

Assalamualaikum, SELAMAT SIANG Kota Malang, Kota Toleransi, Kota berkumpulnya berbagai macam suku, ras, budaya, dan agama, sehingga menjadi kota yang berpenduduk sangat bhinneka, dan banyak beberapa komunitas yang mengupayakan sebuah gerakan ‘Tunggal Ika’ nya, sehingga keberagaman penduduk Kota Malang dapat menjadi pondasi persatuan antar sesama warga kota Malang dan menjadi percontohan Kota yang relatif aman dari isu perpecahan akibat konflik SARA.
SELAMAT SIANG? Ya, tulisan ini hanya berangkat dari kata “Selamat Siang”, dimana kemarin penulis menanyakan sebuah problem mata kuliah terhadap salah satu dosen dari penulis. Disini penulis mendapatkan respon yang sangat tidak penulis duga, terheran-heran, karena penulis kira, apa yang penulis sampaikan kepada beliau disampaikan dengan kalimat-kalimat yang terbilang sopan dan ta’dzim. Respon beliau menurut penulis sangat tidak perlu diungkapkan, karena ada beberapa point yang menurut penulis adalah hal yang bertentangan dengan apa yang penulis fahami selama ini.

Sunday, 25 October 2015

Perspektif Al-Qur’an : Optimalisasi Sumber Daya Alam Laut sebagai Potensi Strategis menuju Indonesia Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur

23:47 Posted by Bbhj , , No comments


Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

۞ٱللَّهُ ٱلَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡبَحۡرَ لِتَجۡرِيَ ٱلۡفُلۡكُ فِيهِ بِأَمۡرِهِۦ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٢
“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al Jatsiyah : 12)

Indahnya Ciptaan-Mu | Laut Indonesia
Dari 6236 ayat dalam Al-Qur’an, ada 32 ayat yang menyebutkan tentang lautan. Sedangkan ayat yang menjelaskan tentang daratan atau al-ardl hanya 13 ayat Saja. Jika dijumlahkan, keduanya menjadi 45 ayat. Angka 32 itu sama dengan 71,11 persen dari 45. Sedang 13 itu identik dengan 28,22 persen dari 45. Berdasar ilmu hitungan sains, ternyata memang 71,11 persen bumi ini berupa lautan dan 28,88 persen berupa daratan.Dari fakta tersebut, pasti terdapat suatu hal yang menjadikan laut sebagai makhluk Allah yang istimewa.
Terdapat pula ayat Al-Qur’an yang menerangkan adanya perhiasan yang terkandung di laut, seperti mutiara yang ditemukan oleh manusia pada jenis tiram mutiara, sekitar abad 18, atau sekitar 1400 tahun setelah Al-Quran diturunkan. Dengan demikian isi kandungan Al-Quran, telah diterima kebenarannya oleh sains modern.
Para ahli geologi pada dasarnya sulit membayangkan jika 1.400 tahun lalu, dimana alat/teknologi masih terbatas, ada informasi yang memberikan ilustrasi yang begitu lengkap, jika bukan dari kekuatan supra natural yang maha mengetahui yaitu Allah SWT.

Sunday, 18 October 2015

Wanita dan Kepemimpinan

07:23 Posted by Bbhj , , , , , , No comments


Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial RI) Tokoh Wanita Insprirattif

Selamat Pagi Indonesia, Selamat Pagi Kota Malang. Selamat Pagi Mahasiswi. Ya, mahasiswi, penulis kali ini memang sedikit akan mengulas terkait kepemimpinan mahasiswi, atau dalam konteks global adalah kepemimpinan wanita. Sebelumnya penulis memang sempat lama hilang dari dunia kepenulisan karena terlalu sibuk mengurusi tujuan utama datang ke Malang, apalagi selain duduk manis mendengarkan retorika manusia yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai pengajar mahasiswa, Dosen. Intinya, penulis sibuk melakukan gerakan akademik bernama kuliah. Di weekend kali ini sebetulnya ada beberapa tugas perkuliahan yang harus penulis kerjakan, namun karena renungan dan obrolan ringan malam tadi membuat penulis berhasrat dan bersemangat untuk sedikit mengkhayal tentang wanita yang menurut seorang ahli wanita adalah objek bacaan yang tak pernah habis. Namun disini, sesuai dengan ulasan diatas, penulis membatasi bacaan penulis terhadap wanita dalam konteks kepemimpinan saja, tidak sampai kedalam organ-organ intim wanita seperti penjelasan dalam kitab-kitab reproduksi konsumsi mahasiswa biologi, Ups. Meskipun penulis seorang pejantan tangguh, tak elok kiranya ketika penulis tak memperdulikan kaum hawa yang juga bagian dari kehidupan penulis sendiri, hehe. (Sok peduli).

Saturday, 4 October 2014

“AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH” : PERSPEKTIF PLURALISME-PEMBEBASAN

22:10 Posted by Bbhj , , , No comments


Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebagai Paham keagamaan
Secara terminologis Ahlussunnah Wal Jama’ah Menurut Syekh Abu al-Fadl ibn Syekh ‘Abdus Syakur al-Senori adalah kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi saw. dan thariqah (jalan) para sahabatnya dalam hal akidah (tauhid), amaliyah fisik (fiqh), dan akhlaq batin (tasawwuf). Syekh ‘Abdul Qodir al-Jailani mendefinisikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan as-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. (meliputi ucapan, prilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian jama’ah adalah segala sesuatu yang yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi saw. pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin yang empat yang telah diberi hidayah Allah.”
Secara historis, para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak zaman para sahabat Nabi saw. sebelum munculnya paham Mu’tazilah. Imam Aswaja pada saat itu di antaranya adalah ‘Ali bin Abi Thalib ra., karena jasanya menentang pendapat Khawarij tentang al-Wa‘d wa al-Wa‘îd dan pendapat Qadariyah tentang kehendak Allah dan daya manusia. Di masa tabi’in ada beberapa imam, mereka bahkan menulis beberapa kitab untuk mejelaskan tentang paham Aswaja, seperti ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz dengan karyanya “Risâlah Bâlighah fî Raddi ‘alâ al-Qadariyah”. Para mujtahid fiqh juga turut menyumbang beberapa karya teologi untuk menentang paham-paham di luar Aswaja, seperti Abu Hanifah dengan kitabnya “Al-Fiqh al-Akbar”, Imam Syafii dengan kitabnya “Fi Tashîh al-Nubuwwah wa al-Radd ‘alâ al-Barâhimah”. Generasi Imam dalam teologi Aswaja sesudah itu kemudian diwakili oleh Abu Hasan al-Asy’ari (260 H – 324 H), lantaran keberhasilannya menjatuhkan paham Mu’tazilah.