![]() |
| sumber : kompasiana.com |
Hari Pahlawan
memang sudah lewat 2 hari yang lalu. Tapi berbicara pahlawan, saya punya
pengalaman menarik sewaktu kecil. Saat masih duduk di Sekolah Dasar (SD), kita
akan akrab sekali dengan ejekan sesama kawan. Ejekan yg paling populer adalah
nama si bapak, turun ke ejekan-ejekan nama binatang, terakhir barulah
ejekan-ejekan Abdul (love) Siti. Kawan-kawan
saya, termasuk saya biasa menuliskannya di papan tulis, di meja dengan tipe x,
bahkan diucapkan dengan bahasa tubuh yang ngece. Dari ejekan-ejekan itu,
ada yang menanggapi dengan balas ngece dan ngamuk, ada juga yang diam tak berani,
adapula yang tak berpengaruh dan acuh akan ejekan yang dilontarkan. Ah, masa
kecil memang menyimpan sejuta kenangan yang komplit. Dari ejekan teman semasa
kecil, setidaknya kita sudah belajar untuk bermental baja dan tak mudah
tersinggung dengan statemen orang lain. Dan salahsatu dari sekian banyak ejekan
yang disematkan oleh kawan-kawan masa kecil saya kepada saya adalah PAHLAWAN.
Saat diejek
pahlawan, saya marah di dalam hati. Bukan karena saya tak pantas menyandang
gelar pahlawan karena belum ada keputusan presiden atau pengakuan dari negara,
tapi karena hal yang melatarbelakangi penyematan
pahlawan kepada saya. Begini ceritanya, saat diajak orang tua sahabat saya ke
Pantai Pangandaran, saya bersama sahabat-sahabat masa kecil berangkat
menggunakan truk. Saya sangat senang karena mendapatkan tempat duduk diatas
tempat supir bersama karyawan ortu sahabat saya dan salahsatu sahabat saya.
Angin semilir saat truk berjalan itu sangat menyejukkan. Sahabat saya yang lain
yang kebagian tempat duduk di dalam box truk ingin gantian duduk dengan saya
diatas. Saya jelas tidak mau karena masih baru beberapa menit. "Bentar
lagi lah", sahutku. Diam-diam sahabat-sahabat saya itu menggunjing saya di
box truk dan tiba-tiba berteriak, "Hoy, Pahlawan!", aku menoleh
diiringi tawa sahabat-sahabat saya dibawah. Sejak saat itulah ejekan PAHLAWAN
disematkan kepada saya. Saya kesal sekali waktu itu.
Katanya,
menggunjing saya di sepanjang perjalananan gak ada habisnya. Selalu ada saja
yang bisa diungkit dari diri saya yang membuat sahabat-sahabat saya tertawa.
Karena banyaknya kisah yang bisa digunjingkan dari saya, maka saya disebut
PAHLAWAN. Seperti cerita pahlawan-pahlawan Indonesia yang tak pernah habis
diceritakan guru-guru di sekolah. Tentunya, gelar ke-PAHLAWAN-an saya tak
seperti pahlawan-pahlawan dulu yang mati mulia membela tanah air, tapi
berkonotasi negatif dan ejekan. Ah, tapi seiring berjalannya waktu, ejekan
familiar itu jadi tak mengganggu, malah menambah
keakraban saya dan sahabat-sahabat satu sama lain.
Dari kisah
tersebut, ada hal penting yang bisa kita ambil benang merahnya, bahwa anak
kecil pun sudah tahu apa arti pahlawan. Mereka pahlawan bangsa ini adalah orang
yang memiliki kisah-kisah heroik dalam membela kebenaran. Pahlawan yang diambil
dari bahasa Sanskerta berarti buah/hasil. Sehingga, pahlawan adalah mereka yang
mampu menghasilkan perubahan-perubahan yang memiliki kebermanfaatan bagi
sesama, merubah yang salah menjadi benar. Nah, jika demikian, saya kira dari
bobroknya sistem pendidikan nasional kita, masih ada nilai-nilai yang bisa
dipahami anak-anak SD. Pendidikan inklusif berbasis nilai masih ada yang mancep,
meski banyak aspek yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan kita, dari mulai
pelajaran sejarah yang banyak tipu-tipu, dikotomi sekolah unggulan dan
non-unggulan, pragmatisme fungsi perguruan tinggi, dll.
Kembali ke
konteks pahlawan. Apa sih pahlawan itu? Setelah membaca tulisan Sahabat Fathul
berjudul "Sudahlah, Pahlawan itu Paradoks!"1.
Saya diajak berfikir mengenaik esensi kepahlawanan itu sendiri. Bagaimana
seharusnya kita menginternalisasi nilai-nilai kepahlawanan? Apakah dimaknai
dengan mereka yang dulu berjuang untuk memproklamasikan kemerdekaan? Atau
dimaknai dengan mereka yang mendapat gelar kepahlawanan dari pemerintah? Atau
bahkan dimaknai dengan superhero ala marvel yang sukses besar menjadi box
office? Power rangers? Satria Baja Hitam? Kesatria Bima
X? Ah, semua itu terlalu dangkal untuk mendeskripsikan arti sebuah kata
"PAHLAWAN", kurang dalam. Terlalu pendek, kurang PANJANG.
Sedikit melihat
kondisi bangsa ini. Indonesia dengan Sumber Daya Alam (SDA) bahkan Sumber Daya
Produksi Anak (SDPA) yang besar dan tinggi ini belum juga mampu membawa
rakyatnya menuju kesejahteraan dan keadilan sosial. Terlebih sejak banyaknya
pengelolaan-pengelolaan SDA dan SDPA yang di monopoli rezim "Calon
Pahlawan Golongan K" yang gak jadi itu. Dia alihkan penguasaan SDA ke
tangan-tangan asing, SDPA juga tak kalah, KB diluncurkan untuk mengontrol SDPA
ini. Kalo mau tau datanya, coba aja sahabat googling sendiri, tapi hati-hati,
cari sumber yang kredibel. Coba search bagaimana penguasaan asing atas kekayaan
SDA milik kita. Luar Biasa! Hampir 100% dikuasai asing. Kalo sekedar mengelola
sih gak masalah, tapi bagi hasilnya itu lho gak asik. Selain itu, mereka
merusak lingkungan! Lihat saja Banyuwangi itu. Ada juga data dari WALHI Jatim
tentang Kerusakan Alam di Jawa Timur yang
menyebutkan kerusakan hutan di Jatim sudah sampai angka 700.000 Ha. Kerusakan
itu jelas mengundang banyak bencana, macam longsor, banjir, dll. Menilik
sedikit ke Kota Sebelah yang Metropolitan itu, Kota Surabaya.
Bahkan WALHI berani mengklaim bahwa Warga Surabaya Minum Racun setiap Hari!
Bagaimana tidak? 33,5 ton limbah dibuang ke Kali Surabaya setiap harinya. 33,5
ton itu segimana? Konversi sendiri aja, phone-nya
kan sudah smart semua. Ada lagi kejadian unik, 2014 lalu,
petani di kriminalisasi gara-gara menemukan benih baru! Katanya, salah prosedur
sertifikasi dan penjualan benih. Ternyata pemerintah bukan hanya apatis
terhadap rakyat, namun sampai mengkriminalisasi! Belum konflik tambang, migas,
paten, dll. Ah, terlalu banyak jika harus dipaparkan semua. Nyatanya kita tahu,
bahwa birokrat saat ini berdiri bersama korporat dan ironisnya
membelakangi rakyat. Aduh mak!
Dengan kondisi
ini, apakah kita masih harus ribut siapa pahlawan kita? Masihkan kita mau
meributkan siapa yang layak ditetapkan Presiden menjadi Pahlawan Nasional yang
saya tidak hafal semuanya itu? Atau bahkan masih mau searching kapan
film pahlawan IRON MAN terbaru diluncurkan di Bioskop kesayangan
anda? Ah, nurani kita sepertinya sama-sama berpenyakit. Penyakit itu sudah
akut. Penyakit apatis terhadap kondisi bangsa ini. Penyakit dimana kita lebih
peduli bela eksistensi daripada bela substansi. DPR sibuk cari popularitas
untuk nyalon lagi beberapa tahun ke depan, bahkan dengan mengorbankan rakyatnya
yang terus gontok-gontokan secara horizontal.
Mari kita
bergerak bersama, menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa ini, membela kebenaran.
Kita harus bangkit memantik kesadaran rakyat bersama-sama. Kita harus membangun
kesadaran kritis dan harus menghindari sikap apatis dan sikap pragmatisme,
seperti yang diungkapkan Paulo Freire. Sehingga kita mampu menjadi
pahlawan-pahlawan bagi generasi penerus bangsa ini. Bukan untuk diakui dan
ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional, atau di filmkan oleh para
produser, atau bahkan demi pundi-pundi warisan kehormatan
yang primordialis dalam sekte organisasi, tapi demi keberlanjutan bangsa ini,
menuju bangsa yang berdikari dan sejahtera. Dimana tidak ada sekat antar si
kaya dan si miskin.
Nyatanya, kita
masih butuh banyak pahlawan. Pahlawan yang membela kebenaran, pahlawan yang
mampu melepaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan ketidak adilan, dan pahlawan
yang mampu membawa bangsa ini menuju kejayaan, yang senada dengan esensi
kepahlawanan yang dipahami oleh sahabat-sahabat semasa kecil saya dulu. Salam
setengah Merdeka!
“Saya tak mengharapkan pahlawan. Orang tak selalu baik, benar, berani. Tapi saya mengagumi tindakan yang baik, benar, berani, biarpun sebentar." - Goenawan Muhammad
Kopi Lanang, 12 November 2016
23.33 WIB
1 “Sudahlah, Pahlawan itu Paradoks” oleh Fathul Hasan, Esai
yang meraih Juara I Lomba Menulis Hari Pahlawan oleh PMII Rayon “Pencerahan”
Galileo 2016.

0 comments:
Post a Comment