Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

Wednesday, 3 May 2017

Pendidikan Indonesia, Sudah Sampai Mana?

01:44 Posted by Bbhj , , , , No comments
"Pengajaran yang diberikan oleh pemerintah kolonial hanya untuk dapat menjadi buruh, karena adanya ijazah itu tidak untuk mengisi pendidikan yang sesungguhnya, dan tidak untuk mencari pengetahuan guna kemajuan jiwa raga."
-Ki Hajar Dewantara (@sabdaperubahan)-

sumber : teroponggambong.blogspot.com
Kita sama-sama tau bahwa hari ini (22/05/2017) merupakan peringatan hari pendidikan nasional. Hardiknas ini ditetapkan sebagai apresiasi terhadap kiprah sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional.  Ki Hajar memang dikenal sebagai tokoh yang getol menggelorakan semangat pendidikan di Indonesia. Semboyan Ki Hajar yang paling dikenal adalah "Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Ngadyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani".

Ing Ngarso sung Tulodho, bahwa guru harus menjadi teladan bagi siswanya. Ing Ngadyo Mangun Karso, bahwa guru harus pula punya asas kebersamaan dengan siswanya, sehingga guru dan siswa memiliki ikatan emosional yang baik. Tut Wuri Handayani, bahwa dari belakang, guru harus mampu memotivasi dan mengarahkan kepada hal-hal yg mampu meningkatkan kapasitas intelektual, spiritual dan emosionalnya.

Seperti dalam kutipan diatas, Ki Hajar juga mengajarkan bahwa pendidikan harus benar-benar menyentuh esensi pendidikan itu sendiri, yakni meningkatkan kapasitas intelektual, spiritual, dan emosional yang membangun bagi peserta didik. Selain itu, Ki Hajar juga menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional harus kemudian benar-benar diselaraskan dengan kepentingan rakyat, nusa dan bangsa dalam arti seluas-luasnya.

Namun, dibalik gagasan-gagasan emas Ki Hajar ini, kita patutnya berduka dengan apa yang terjadi dalam sistem pendidikan di negara kita. Bahkan, sahabat saya berseloroh bahwa pendidikan kita lebih butuh diselamatkan daripada diberi ucapan selamat. Alih alih merealisasikan tujuan pendidikan nasional seperti yang termaktub dalam UU No 20 tahun 2003 pasal 3, pendidikan nasional hari ini malah membawa kita kepada masa-masa pemerintahan kolonial, dimana pendidikan kita hanya mencetak lulusan-lulusan yang tidak berorientasi global, hanya berorientasi pada kemunduran yang dianggapnya lumrah.

Ada beberapa aspek yang menyebabkan mengapa saya menyimpulkan bahwa pendidikan kita telah gagal mencetak lulusan-lulusan yang memiliki wawasan kebangsaan yang luas. Pertama, aspek ke-bhinneka-an, aspek ini sangatlah penting untuk diperhatikan pendidik kita. Meningkatnya angka radikalisme, intoleransi, dan menyeruaknya isu SARA telah mengancam keindonesiaan kita. Pendidik harus kemudian menjadikan pendidikan kebhinnekaan sebagai fokus utama dalam garapan pendidikan, dimana setiap warga negara harus memahami bahwa kemajumukan bangsa Indonesia adalah sesuatu yang harus diterima oleh setiap warga negara. Dimana suku, ras, dan agama yang berbeda-beda harus mampu hidup berdampingan, menerima perbedaan, bersama-sama bekerjasama membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Kedua, aspek komersil. Seperti yang pernah diungkapkan Almarhum Gusdur, bahwa "Pendidikan hari ini sudah seperti industri komersil, sehingga orang tidak mampu lagi membedakan mana kerja mendidik, mana kerja mengembangkan keterampilan. Dunia pendidikan akhirnya lebih diurusi para birokrat dan manajer pendidikan, ketimbang pemikir yang berperspektif luas dan berpandangan ke depan". Sudah menjadi pandangan umum, bahwa pendidikan hari ini semakin tidak terjangkau oleh rakyat, mulai sistem UKT dan beasiswa yang seringkali tidak tepat sasaran, fasilitas pendidikan yang tidak selaras dengan iuran yang dibayarkan, ijazah ilegal,  hingga monopoli penerimaan peserta didik yang terkesan transaksional.

Hal diatas menyebabkan pendidikan hanya mampu diakses oleh kalangan elit dan menyingkirkan rakyat miskin. Padahal seharusnya, pendidikan harus terbuka aksesnya untuk seluruh warga negara seperti bunyi UUD 1945. Tidak boleh ada beda! Seringkali pengelola instansi pendidikan berdalih bahwa mahalnya biaya sekolah dikarenakan mahalnya fasilitas-fasilitas pendidikan yang ada. Pradigma kapitalistik seperti ini tidak diperbolehkan hidup di dunia pendidikan. Pemerintah melalui APBN ataupun sekolah-sekolah dalam upaya mandirinya harus kemudian mencari solusi pendanaan untuk pendidikan tanpa harus mencederai esensi penyelenggaraan pendidikan yang harus jauh dari paradigma kapitalistik.

Ketiga, aspek kebebasan. Aspek kebebasan menjadi penting dalam pendidikan kita. Karena melalui kebebasan, seorang siswa akan mampu mengoptimalkan potensi dan kreativitasnya. Ki Hajar juga menyatakan bahwa, "Anak-anak tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun kodratnya itu.". Disini ki Hajar sangat menekankan bahwa pendidikan tidak boleh memaksa kepada siswa. Setiap siswa/mahasiswa tidak lahir untuk potensi dan peran yang sama, sehingga pendidik harus memahami bahwa pemaksaan terhadap peserta didik akan membunuh karakter dan potensi mereka.

Pailo Freire dalam bukunya menyebutkan bahwa pendidikan haruslah membebaskan. Dalam artian, pendidikan tidak kemudian dipraktikkan seperti praktik perbankan, dimana murid hanya menjadi celengan guru yang diibaratkan seperti penabung. Bagaimanapun, guru harus pula terbuka dalam kaitannya menerima pendapat siswa. Sehingga, pendidikan menjadi bersifat dialogis, dimana guru harus siap disalahkan oleh siswa ketika guru itu memang salah, begitupun sebaliknya. Jika dikorelasikan dengan prinsip Ki Hajar, bisa diasumsikan bahwa prinsip freire ini selaras dengan prinsip "Ing Ngadyo Mangun Karso".

Dalam praktik pendidikan kita, kita seringkali melihat guru/dosen yang sewenang-wenang memaksakan kehendaknya, hingga terkadang ia berani untuk menabrak prinsip-prinsip pendidikan yang ada, misal dengan melakukan pengurangan nilai atas sesuatu yang sebetulnya tidak berkaitan dengan pembelajaran tersebut. Hal ini cukup efektif membuat peserta didik untuk selalu tunduk pada kehendak pendidik, dan hal ini sangat jelas membunuh potensi peserta didik. Di level mahasiswa, adapula berbagai kebijakan nasional yang membatasi aktivitas organisasi mahasiswa, semacam NKK/BKK baru yang jelas-jelas mencederai proses perkembangan mahasiswa di level organisasi.

Keempat, aspek kepedulian. Aspek kepedulian ini sangat penting sebagai hasil dari tempaan pendidikan. Pendidikan harus kemudian memupuk kepedulian terhadap realitas sosial. Kelanjutan dari gagasan Freire, bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang netral dan bebas nilai, pendidikan harus berpihak. Sedangkan keberpihakan harus ditimbulkan melalui kepedulian.

Melihat realitas sosial kita yang timpang, kita harus menjadi peduli untuk mencoba mengubahnya. Sehingga, dalam praktiknya, pendidik harus menjadikan aspek kepedulian sebagai salahsatu fokus garapan. Tan Malaka mengingatkan kita bahwa sebagai seorang yang terdidik, kita harus mau melebur bersama rakyat miskin, untuk mengurangi ketimpangan sosial yang ada, jika tidak, maka pendidikan itu tidak pantas untuk dirinya.

Ketimpangan kondisi sosial di Indonesia bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Lulusan-lulusan instansi pendidikan harus kemudian berakselerasi dalam mengurangi ketimpangan sosial yang ada disekitarnya. Mereka tidak boleh menjadi lulusan yang seperti ditakutkan Romo Mangun, dimana mereka kaum sekolah akan menjadi penindas-penindas baru dengan kepintaran mereka. Atau dalam konteks budaya jawa, "minteri" rakyat dengan kepintarannya.

Kita harus segera move on dari ketidakpedulian sosial. Sudah cukup para pejabat di era sekarang yang hanya peduli pada diri sendiri dan familinya. Sudah cukup perilaku koruptif dipertontonkan. Pendidikan merupakan jalan efektif memupuk kepedulian generasi kita, bahwa masih banyak kaum tertindas yang perlu diperjuangkan! Bahwa masih panjang perjuangan bangsa kita untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan sejahtera!

Menilik keempat aspek diatas. Agaknya kita memang harus sekuat tenaga berjuang untuk terus berjuang memperbaiki pendidikan kita bersama-sama. Karena bagi saya, pendidikan adalah jalan efektif yang dapat digunakan sebagai alat penyadaran bersama, baik melalui pendidikan formal, informal, maupun non-formal. Dengan pendidikan yang baik, saya berkeyakinan bahwa Indonesia akan mampu mencapai cita-cita kemerdekaannya.

Ditahun 2020-2030, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, dimana angka usia produktif mencapai angka 70%. Angka ini bagai dua sisi mata uang, bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi bencana. Berkah dalam artian tingginya usia produktif diiringi dengan kualitas SDM mumpuni yang mampu mengisi ruang-ruang produktif dalam berbangsa dan bernegara. Bencana dalam artian tingginya usia produktif tidak diiringi dengan kualitas SDM yang baik yang tidak mampu bersaing di era global. Instansi pendidikan merupakan instrumen utama yang seharusnya mampu mengelola bonus demografi ini menjadi sebuah berkah bagia kemajuan bangsa.

"Memayu Hayuning Sariro, Memayu Hayuning Bangsa, Memayu hayuning Bawana, (Apapun Yang Di Perbuat Oleh Seseorang Itu, Hendaknya Dapat Bermanfaat Bagi Dirinya Sendiri, Bermanfaat Bagi Bangsanya, Dan Bermanfaat Bagi Manusia Di Dunia Pada Umumnya)"
 - Ki Hajar Dewantara

Selamat Ulang Tahun Ki Hajar Dewantara!

Mari berbenah untuk pendidikan kita!

Arjuno, 02/05/2017
22.45

Saturday, 12 November 2016

Nyatanya, Kita Masih Butuh Banyak "PAHLAWAN"

23:50 Posted by Bbhj , , , , No comments
sumber : kompasiana.com
Hari Pahlawan memang sudah lewat 2 hari yang lalu. Tapi berbicara pahlawan, saya punya pengalaman menarik sewaktu kecil. Saat masih duduk di Sekolah Dasar (SD), kita akan akrab sekali dengan ejekan sesama kawan. Ejekan yg paling populer adalah nama si bapak, turun ke ejekan-ejekan nama binatang, terakhir barulah ejekan-ejekan Abdul (love) Siti. Kawan-kawan saya, termasuk saya biasa menuliskannya di papan tulis, di meja dengan tipe x, bahkan diucapkan dengan bahasa tubuh yang ngece. Dari ejekan-ejekan itu, ada yang menanggapi dengan balas ngece dan ngamuk, ada juga yang diam tak berani, adapula yang tak berpengaruh dan acuh akan ejekan yang dilontarkan. Ah, masa kecil memang menyimpan sejuta kenangan yang komplit. Dari ejekan teman semasa kecil, setidaknya kita sudah belajar untuk bermental baja dan tak mudah tersinggung dengan statemen orang lain. Dan salahsatu dari sekian banyak ejekan yang disematkan oleh kawan-kawan masa kecil saya kepada saya adalah PAHLAWAN.
Saat diejek pahlawan, saya marah di dalam hati. Bukan karena saya tak pantas menyandang gelar pahlawan karena belum ada keputusan presiden atau pengakuan dari negara, tapi karena hal yang melatarbelakangi penyematan pahlawan kepada saya. Begini ceritanya, saat diajak orang tua sahabat saya ke Pantai Pangandaran, saya bersama sahabat-sahabat masa kecil berangkat menggunakan truk. Saya sangat senang karena mendapatkan tempat duduk diatas tempat supir bersama karyawan ortu sahabat saya dan salahsatu sahabat saya. Angin semilir saat truk berjalan itu sangat menyejukkan. Sahabat saya yang lain yang kebagian tempat duduk di dalam box truk ingin gantian duduk dengan saya diatas. Saya jelas tidak mau karena masih baru beberapa menit. "Bentar lagi lah", sahutku. Diam-diam sahabat-sahabat saya itu menggunjing saya di box truk dan tiba-tiba berteriak, "Hoy, Pahlawan!", aku menoleh diiringi tawa sahabat-sahabat saya dibawah. Sejak saat itulah ejekan PAHLAWAN disematkan kepada saya. Saya kesal sekali waktu itu.
Katanya, menggunjing saya di sepanjang perjalananan gak ada habisnya. Selalu ada saja yang bisa diungkit dari diri saya yang membuat sahabat-sahabat saya tertawa. Karena banyaknya kisah yang bisa digunjingkan dari saya, maka saya disebut PAHLAWAN. Seperti cerita pahlawan-pahlawan Indonesia yang tak pernah habis diceritakan guru-guru di sekolah. Tentunya, gelar ke-PAHLAWAN-an saya tak seperti pahlawan-pahlawan dulu yang mati mulia membela tanah air, tapi berkonotasi negatif dan ejekan. Ah, tapi seiring berjalannya waktu, ejekan familiar itu jadi tak mengganggu, malah menambah keakraban saya dan sahabat-sahabat satu sama lain.
Dari kisah tersebut, ada hal penting yang bisa kita ambil benang merahnya, bahwa anak kecil pun sudah tahu apa arti pahlawan. Mereka pahlawan bangsa ini adalah orang yang memiliki kisah-kisah heroik dalam membela kebenaran. Pahlawan yang diambil dari bahasa Sanskerta berarti buah/hasil. Sehingga, pahlawan adalah mereka yang mampu menghasilkan perubahan-perubahan yang memiliki kebermanfaatan bagi sesama, merubah yang salah menjadi benar. Nah, jika demikian, saya kira dari bobroknya sistem pendidikan nasional kita, masih ada nilai-nilai yang bisa dipahami anak-anak SD. Pendidikan inklusif berbasis nilai masih ada yang mancep, meski banyak aspek yang perlu dibenahi dari sistem pendidikan kita, dari mulai pelajaran sejarah yang banyak tipu-tipu, dikotomi sekolah unggulan dan non-unggulan, pragmatisme fungsi perguruan tinggi, dll.
Kembali ke konteks pahlawan. Apa sih pahlawan itu? Setelah membaca tulisan Sahabat Fathul berjudul "Sudahlah, Pahlawan itu Paradoks!"1. Saya diajak berfikir mengenaik esensi kepahlawanan itu sendiri. Bagaimana seharusnya kita menginternalisasi nilai-nilai kepahlawanan? Apakah dimaknai dengan mereka yang dulu berjuang untuk memproklamasikan kemerdekaan? Atau dimaknai dengan mereka yang mendapat gelar kepahlawanan dari pemerintah? Atau bahkan dimaknai dengan superhero ala marvel yang sukses besar menjadi box office? Power rangers? Satria Baja Hitam? Kesatria Bima X? Ah, semua itu terlalu dangkal untuk mendeskripsikan arti sebuah kata "PAHLAWAN", kurang dalam. Terlalu pendek, kurang PANJANG.
Sedikit melihat kondisi bangsa ini. Indonesia dengan Sumber Daya Alam (SDA) bahkan Sumber Daya Produksi Anak (SDPA) yang besar dan tinggi ini belum juga mampu membawa rakyatnya menuju kesejahteraan dan keadilan sosial. Terlebih sejak banyaknya pengelolaan-pengelolaan SDA dan SDPA yang di monopoli rezim "Calon Pahlawan Golongan K" yang gak jadi itu. Dia alihkan penguasaan SDA ke tangan-tangan asing, SDPA juga tak kalah, KB diluncurkan untuk mengontrol SDPA ini. Kalo mau tau datanya, coba aja sahabat googling sendiri, tapi hati-hati, cari sumber yang kredibel. Coba search bagaimana penguasaan asing atas kekayaan SDA milik kita. Luar Biasa! Hampir 100% dikuasai asing. Kalo sekedar mengelola sih gak masalah, tapi bagi hasilnya itu lho gak asik. Selain itu, mereka merusak lingkungan! Lihat saja Banyuwangi itu. Ada juga data dari WALHI Jatim tentang Kerusakan Alam di Jawa Timur yang menyebutkan kerusakan hutan di Jatim sudah sampai angka 700.000 Ha. Kerusakan itu jelas mengundang banyak bencana, macam longsor, banjir, dll. Menilik sedikit ke Kota Sebelah yang Metropolitan itu, Kota Surabaya. Bahkan WALHI berani mengklaim bahwa Warga Surabaya Minum Racun setiap Hari! Bagaimana tidak? 33,5 ton limbah dibuang ke Kali Surabaya setiap harinya. 33,5 ton itu segimana? Konversi sendiri aja, phone-nya kan sudah smart semua. Ada lagi kejadian unik, 2014 lalu, petani di kriminalisasi gara-gara menemukan benih baru! Katanya, salah prosedur sertifikasi dan penjualan benih. Ternyata pemerintah bukan hanya apatis terhadap rakyat, namun sampai mengkriminalisasi! Belum konflik tambang, migas, paten, dll. Ah, terlalu banyak jika harus dipaparkan semua. Nyatanya kita tahu, bahwa birokrat saat ini berdiri bersama korporat dan ironisnya membelakangi rakyat. Aduh mak!
Dengan kondisi ini, apakah kita masih harus ribut siapa pahlawan kita? Masihkan kita mau meributkan siapa yang layak ditetapkan Presiden menjadi Pahlawan Nasional yang saya tidak hafal semuanya itu? Atau bahkan masih mau searching kapan film pahlawan IRON MAN terbaru diluncurkan di Bioskop kesayangan anda? Ah, nurani kita sepertinya sama-sama berpenyakit. Penyakit itu sudah akut. Penyakit apatis terhadap kondisi bangsa ini. Penyakit dimana kita lebih peduli bela eksistensi daripada bela substansi. DPR sibuk cari popularitas untuk nyalon lagi beberapa tahun ke depan, bahkan dengan mengorbankan rakyatnya yang terus gontok-gontokan secara horizontal.
Mari kita bergerak bersama, menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa ini, membela kebenaran. Kita harus bangkit memantik kesadaran rakyat bersama-sama. Kita harus membangun kesadaran kritis dan harus menghindari sikap apatis dan sikap pragmatisme, seperti yang diungkapkan Paulo Freire. Sehingga kita mampu menjadi pahlawan-pahlawan bagi generasi penerus bangsa ini. Bukan untuk diakui dan ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional, atau di filmkan oleh para produser, atau bahkan demi pundi-pundi warisan kehormatan yang primordialis dalam sekte organisasi, tapi demi keberlanjutan bangsa ini, menuju bangsa yang berdikari dan sejahtera. Dimana tidak ada sekat antar si kaya dan si miskin.
Nyatanya, kita masih butuh banyak pahlawan. Pahlawan yang membela kebenaran, pahlawan yang mampu melepaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan ketidak adilan, dan pahlawan yang mampu membawa bangsa ini menuju kejayaan, yang senada dengan esensi kepahlawanan yang dipahami oleh sahabat-sahabat semasa kecil saya dulu. Salam setengah Merdeka!


“Saya tak mengharapkan pahlawan. Orang tak selalu baik, benar, berani. Tapi saya mengagumi tindakan yang baik, benar, berani, biarpun sebentar." - Goenawan Muhammad

Kopi Lanang, 12 November 2016
23.33 WIB

1 “Sudahlah, Pahlawan itu Paradoks” oleh Fathul Hasan, Esai yang meraih Juara I Lomba Menulis Hari Pahlawan oleh PMII Rayon “Pencerahan” Galileo 2016.

Saturday, 29 October 2016

Mencari Sola(u)si Macet

13:15 Posted by Bbhj , , , No comments

Hampir setiap hari, Kota Malang dilanda kemacetan. Kalau sudah macet, waktu banyak yg terkorbankan, jadwal ketemu sama si pacar jadi lebih sebentar karena lebih lama dijalan. Waktu kuliah pun sama. Bahkan, meski dari kos sudah berniat kuliah, kadang gara-gara macet, kita gak jadi kuliah dan malah belok ke warung kopi. hahaha. Saya berujar, ini masih Kota Malang, bukan kota besar macam Jakarta, Medan, Bandung dan Surabaya. Bagaimana macetnya kota-kota besar itu, tak bisa dibayangkan. Eh, sepertinya bisa, saya pernah suatu waktu jalan-jalan ke surabaya, bihhhh, jalanan begitu macet. Jalan masuk utama dari Kota Sidoarjo ini mantap sekali, kalo pake mobil, bisa berjam jam, tapi berhubung saya pake sepeda motor, yah, trotoar banyak yang kosong untuk dijadikan rute alternatif, hahaha (lagi).


Saat saya liburan pun begitu. Ayah saya seringkali mengeluh, "Dulu itu kalo ke Cirebon cukup 30-45 menit, sekarang 1 jam lebih, jalannya padat.", ujarnya sambil menyalip kendaraan di depan. Daerah saya itu lho, ya kota kecil, jarang dikenal, tapi sudah macet, mau tau nama daerah saya itu? Kabupaten Majalengka, kenal? Yang tau mungkin yang asli Jawa Barat, selain asli sunda, pasti dia akan memberikan pertanyaan susulan, "Majalengka itu dimana ya?". Saya sudah tau gelagat orang seperti ini, nilai Mata Pelajaran Geografi di SMA paling dapet 60, maka langsung saya jawab, "Tetangganya Cirebon mas.". Biasanya, orang lebih mudah mengenal Cirebon, kotanya cukup terkenal. Cirebon merupakan rumah asal dari Kang Said, Ketua Umum PBNU dan terdapat makam salahsatu walisongo, yakni Sunan Gunung Jati. Saya pikir, jawaban tambahan itu sudah membuat si penanya mengerti, namun tak dikira-kira, ternyata teman saya itu masih juga melayangkan pertanyaan lain, "Cirebon iku Jawa Tengah yo mas? Endi ne pekalongan mas?". Jancuk a, gumamku. "Iyo, jateng. Tonggone Pekalongan pas bro.", jawabku mantap. Nilai geografi ne arek iki piro to? Masak harus menunggu saya jadi Bupati Majalengka untuk Majalengka bisa dikenal, eh. Yah, beginilah hasil dari sistem pendidikan di Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Eistein, bahwa semua orang itu cerdas, namun adalah hal bodoh bila kau menyuruh ikan untuk memanjat pohon seperti monyet. Namun, disini saya tidak ingin bercerita pendidikan, saya sekarang sedang galau tentang kemacetan yang tiada tara.

Siapa yang tidak tahu, di Indonesia ini, khususnya pulau jawa, hampir setiap rumah memiliki kendaraan pribadi, mulai mobil, motor, bahkan sepeda pancal ataupun sepeda goes milik balita. Penduduk pulau jawa juga sangat padat. Menurut BPS, 54,7% (sekitar 141 juta jiwa) penduduk Indonesia berada di pulau jawa. Jadi, lebih dari setengah penduduk Indonesia ini menetap pulau jawa. Contoh kecil deh, berapa mahasiswa di Malang yang tidak menggondol sepeda motor dari rumahnya? jangan dulu lingkup Malang deh, kampus saya, UIN, berapa yang tidak bawa sepeda motor untuk pergi ke kampus? Parkiran kampus sekelas WCU (World Class University) saja sudah tidak muat, apalagi kampus UB yang kampusnya cuma akreditasi institusi B. Eh, kok malah ngomongin kampus. kembali ke parkir, eh macet.

Nah, trus bagaimana nih? menurut saya, kemacetan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kalo tidak boleh dibiarkan, berarti hal tersebut adalah masalah, kalo masalah itu harus diatasi, kalo perlu diatasi, berarti harus memikirkan SOLASI, eh SOLUSI. Bagaimana solasinya? Saya juga belum tau betul bagaimana solusinya, saya kurang pengalaman, gak ada sama sekali pengalaman kerja di Dishub ataupun yang lainnya. Tapi kata Gus Dur, bukankah untuk jadi presiden gak harus pengalaman jadi presiden dulu? Saya ingin mencoba meraba dan menerka solusi itu. Menurut saya, kunci untuk mengatasi kemacetan adalah dengan menekan kepemilikan kendaraan, memperketat realisasi regulasi lalu lintas, dan meningkatkan kualitas fasilitas dan transportasi umum.

Pertama, menekan jumlah kepemilikan kendaraan. Ya, kepemilikan kendaraan harus dibatasi. Lha, bagaimana volume kendaraan mau berkurang kalo mobil sekarang bisa sangat murah dengan sistem kredit yang memudahkan. Maka harus dimahalkan. Selain itu, kepemilikan kendaraan di Indonesia tidak dibatasi waktu. Harusnya, kepemilikan kendaraan dibatasi waktu. Misal setiap 5 tahun harus masuk rongsok dan di kilo, hahaha. Dengan begitu, orang akan enggan membeli kendaraan. Kalo bicara statistik, lagi-lagi, silahkan tanya mbah google. Kalo saya main logika sederhana aja. Kalo kata mbah Jiwo, IQ? IQ? IQ?

Kedua, memperketat realisasi regulasi. Nah, ini yang sulit, budaya suap, pungli, dll yang masih sangat akrab dengan sendi-sendi kehidupan kita. Kalo ini saya tak mau banyak bicara, ayo kita sadar bersama-sama, stop praktik pungli dan suap. Sudah cukup saat balita kita disuapi, masak sudah jadi PNS dan Polisi masih pengen disuapi. Kitanya juga nih, mau aja nyuapin yang bukan anak kita. Kalo masih seperti ini, yaaaa terserah, mau makan dimana, di warung sana juga boleh, di warung sini juga boleh, terserah kamu, asal jangan lalapan, bosen.

Ketiga, meningkatkan kualitas transportasi dan fadilitas umum. Ini yang menjadi konsekuensi yang harus benar-benar diupayakan guna mendukung opsi pertama dalam membatasi kepemilikan kendaraan. Sehingga, rakyat semakin aman dan nyaman menggunakan transportasi umum. Yah, mau gimana aman dan nyaman, kadangkala masih ada yang ribut tarif angkot antara supir dan penumpang. Adapula ORGANDA dan PPAD yang naikkan tarif ketika ada kenaikan BBM. Semakin tinggi lah jurang pemisah antara ongkos transportasi umum dan kendaraan pribadi. Ini sangat berpengaruh. Contohnya begini, saya kalo harus pulang dari malang ke jawa barat menggunakan mobil pribadi, bisa sampai menghabiskan 500 ribu, untuk bensin dan makan, belum lagi mesin mobil yang panas dan perlu servis serta lelahnya menyetir dengan perjalanan ratusan kilometer saking jauhnya. Saya lebih memilih naik kereta api, cukup uang 100-150 ribu, saya sudah bisa sampai rumah. Lah, berbeda dengan ANGKOT, jauh dekat 4 ribu, sedangkan untuk ke lokasi yang saya tuju harus naik angkot 3 kali, berarti butuh dana 12 ribu, PP 24 ribu. Berbeda dengan menggunakan sepeda motor pribadi, cukup 8 ribu/liter, PP masih sisa banyak. Maka harus dipikirkan kemudian formulasi dan konsepsi transportasi jarak dekat yang terjangkau oleh rakyat jelata, kopi lanang dan unyil coffee, dimana ongkos transportasi umum bisa lebih murah daripada menggunakan kendaraan pribadi. Kalaupun tidak bisa lebih murah, fasilitasnya ditingkatkan, sehingga lebih nyaman.

Yah, mau bagaimanapun, ini cuma tulisan dan harapan saya ke depan. Mengkonsep dan menulisnya memang mudah, tapi merealisasikannya tak semudah menulisnya, bukan? Butuh kerja ekstra, keterlibatan dan dukungan berbagai pihak untuk merealisasikannya. Oh iya, selaku pemuda (untuk yang masih muda2 lho), cobalah untuk mengendalikan budaya konsumtif kita, cobalah berfikir untuk mengarah ke pola pikir produktif. Kita semua pasti lelah, semua teknologi yang kita gunakan, gak ada yang MADE IN INDONESIA. Ayo bergerak bersama! Masa depan bangsa ini ditangan kita. Masih dengan semangat sumpah pemuda. Salam Pemuda! Salam Pergerakan! Selamat mengopi! Srupuuuut...

Kos-kosan cedek.e pondok putri
Sabtu, 29/10/2016
10.35 WIB

Monday, 29 August 2016

PROKLAMASI BUNG KARNO 2016

01:46 Posted by Bbhj , , , 1 comment
instagram @sabdaperubahan 
Saya terhenyak membaca puisi ini. Meski sudah berulang kali saya membaca, hati saya tetap berdebar, sementara otak ini terus berpikir, sebegitu hancurkah negeri ini? Puisi ini adalah buah karya seorang senior saya di suatu organisasi. Sejujurnya saya kagum dengan puisi ini. Begitu merepresentasikan kondisi negeri ini, dengan berbagai problem disudut sana dan sini.
Siang tadi, saya diberi kesempatan untuk memberikan materi dalam sebuah acara. Malamnya, saya membuat materi untuk acara tersebut, dan saya memasukkan puisi ini ke dalam slide presentasi saya, tepatnya untuk menutup presentasi saya. 
Di akhir acara, saya benar-benar membaca puisi tersebut. Saat itu adalah saat dimana saya membacakan sebuah puisi di depan umum sejak TK. Lalu apa hasilnya? Saya tidak tau apa yang dirasakan peserta forum tersebut, tapi yang pasti, badan saya bergetar! Hati saya bukan lagi tersentuh! Tapi benar-benar disentuh, bahkan serasa di tusuk lara yang hebat. Sungguh puisi yang luar biasa!
Sebelumnya mohon maaf kepada senior saya, karena tanpa izin, saya menggunakan puisi njenengan dalam presentasi saya. Tapi tenang saja, saya bukan plagiator, saya tetap cantumkan nama panjenengan. Meski tetap, saya masih terbilang TIDAK SOPAN, tidak izin dulu.
Nah, tapi saya malah tambah TIDAK SOPAN, sekarang saya ingin memposting puisi ini di blog saya. Dengan harapan, tamu-tamu blog ini bisa juga membacanya dan terilhami oleh isi puisi ini untuk melakukan sesuatu. Sopan atau tidak, saya yakin ini adalah sebuah langkah yang bermanfaat, jadi mungkin ketidaksopanan itu akan sedikit tertutupi. :-)
Yah, ini lah puisi nya, Selamat membaca puisi reflektif dalam Sahabat Em Yasin Arief.

PROKLAMASI BUNG KARNO 2016
Oleh : Em Yasin Arief

Bung Karno bangkit dari kubur
Dia haus ingin minum
Ku suguhkan air mineral
Dia hanya bingung tak mau minum
Karena tanah airnya tinggal tanah
Sedang airnya milik Prancis sudah
Ku seduhkan segelas teh celup
Dia hanya termenung tak mau minum
Karena kebun tehnya tinggal kebun
Lahan tebunya tinggal lahan
Gulanya milik Malaysia
Tehnya Inggris yang punya
Lalu ku bukakan susu kaleng
Bung Karno hanya menggeleng
Kandang sapinya tinggal kandang
Sedang sapinya milik Selandia
Diperah Swiss dan Belanda

Bung Karno bangkit dari kubur
Dia lapar ingin sarapan
Ku hidangkan nasi putih
Dia tak mau makan hanya bersedih
Karena sawahnya tinggal sawah
Lumbung padinya tinggal lumbung
Padinya milik Vietnam
Berasnya milik Thailand
Ku sulutkan sebatang rokok
Dia menggeleng tak mau merokok
Tembakau memang miliknya
Cengkehnya dari kebunnya
Tapi pabriknya milik Amerika

Bung Karno bingung bertanya-tanya
Sabun pasta gigi, kenapa Inggris yang punya
Toko-toko milik Prancis dan Malaysia
Alat komunikasi punya Qatar dan Singapura
Mesin dan perabotan rumah tangga
Kenapa dikuasai Jepang, Korea dan China
Bung Karno tersungkur ketanah
Hatinya sakit teriris-iris
Setelah tau emasnya dikeruk habis
Setelah tau minyaknya dirampok iblis
Bung karno menangis darah
ndonesia kembali terjajah
Indonesia telah melupakan sejarah

Bung Karno membaca Proklamasi
Kami bangsa Indonesia,
Dengan ini menyatakan
Ketidak-merdekaan Indonesia. 
Hal-hal mengenai penindasan
Dan kekuasaan asing,
Telah terlaksana sudah lama,
Dengan cara seksama,
Dan dalam tempo
yang tak dapat dikira-kira.

Tujuh Belas Agustus,
Dua Ribu Enam Belas.


- Malang, 07 Agustus 2016

Wednesday, 27 July 2016

Si Penerawang Pencuri yang Menerawang ke Awang-Awang

00:53 Posted by Bbhj , , No comments
sumber : http://sofyanruray.info/
Assalamualaikum, Selamat Malam, Salam sejahtera bagi kita semua, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT serta eksis dalam menjalani kehidupan sehari-hari (ko pembukaannya ala-ala surat resmi ya?). Kali ini penulis hanya ingin sekedar menceritakan pengalaman pribadi penulis dalam suatu kejadian yang cukup lumrah terjadi dimana-mana. Namun, semoga kejadian yang lumrah ini tidak menjadi kejadian yang membudaya dalam kehidupan bersosial, karena seringkali kejadian ini menimbulkan fitnah.
                Setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan atas barang pribadinya. Barang pribadi yang dimaksud disini bukan barang yang ada 15 cm dibawah udel mu lho, tapi barang-barang seperti handphone, laptop, sepeda motor, pulpen, bahkan sesuatu yang kecil namun menimbulkan fitnah besar diantara sahabat, KOREK GASOLIN. Sebagai manusia yang manusiawi, kehilangan barang pribadi pasti menimbulkan efek psikologis terhadap diri pribadi, apalagi seperti penulis yang segala keperluan hidupnya masih nebeng orang tua. Sulit rasanya mengikhlaskan kehilangan barang pribadi, apalagi yang paling disukai dan dibutuhkan. Meski dalam ucap kita berkata, “ya wes lah, guduk rizki ne paling”, tapi dalam hati, tetap berharap barang itu kembali. Sehingga, setelah barang tersebut hilang, seseorang yang kehilangan biasanya berikhtiar terlebih dahulu untuk mencarinya sebelum akhirnya secara terpaksa mengikhlaskan (ikhlas ko terpaksa?) kepergian barangnya, sekali lagi, bukan barang yang dibawah udel, CAMKAN!
                Ikhtiar yang dilakukan bermacam-macam, ada yang lapor ke pihak berwajib, ada pula yang melapor ke pihak yang bersunnah macam kelompok cingkrang dan jenggot panjang (eh...). Bahkan, untuk perkara seperti ini pun, ada yang melapor ke Kyai, Ustadz, Dukun, bahkan orang yang dianggap bisa menerawang pelaku penghilangan paksa barang pribadi tersebut.
Menjaga barang pribadi dalam konteks agama Islam adalah kewajiban. Sesuai dengan maqashid asy-syar’iyyah (tujuan syari’at), bahwa hifdzul maal (menjaga harta) adalah harus diupayakan, sehingga salah satu tujuan syariat pun salahsatunya adalah untuk menjaga harta/barang pribadi kita. Seringkali ayah dari penulis memberikan nasihat bahwa harta yang kita miliki adalah milik Allah, maka wajib kita menjaga titipan Allah tersebut dengan baik. Begitulah bagaimana Islam dengan syariatnya mencoba melindungi hak dasar individu para pemeluknya dalam konteks melindungi hartanya, sehingga ada syariat/aturan tersendiri bagi pelaku pencurian termasuk hierarki yang harus dilalui dalam mengusut tuntas kasus pencurian. Pun Indonesia sebagai negara hukum, memiliki aturan-aturan yang jelas terkait sanksi atau pidana bagi pelaku pencurian termasuk hierarki atau sistematika pengusutan kasus pencurian.
Dari uraian diatas, penulis mengambil sebuah intisari penting bahwa ketika kita kehilangan barang berharga milik pribadi, gunakanlah aturan-aturan yang ada untuk mengusut kasus tersebut, sehingga ikhtiar kita selaku korban kehilangan tidak kemudian menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti fitnah dan grundel dalam hati. Apabila ingin dibantu pengusutannya oleh kepolisian, silahkan melapor ke kepolisian, apabila ingin diusut secara kekeluargaan, silahkan diusut secara kekeluargaan dengan hierarki dan sistematika pengusutan yang konkrit hingga terdapat saksi, barang bukti, dan alat pendukung lainnya.
Ikhtiar/upaya yang baik dalam menuju suatu pencapaian wajib dilakukan. Penulis masih ingat nasihat kyai saat masih belajar di pesantren, bahwa sesuatu yang baik apabila dicapai dan diupayakan dengan jalan yang tidak baik, maka hasilnya akan menjadi tidak baik. Begitupula dengan kasus pencurian, korban kehilangan harus pula berupaya mencari pelaku pencurian dengan cara yang benar/baik, yakni dengan sistematika dan regulasi yang benar. Dan yang terpenting adalah bagaimana konsepsi pengusutan tersebut dilalui dengan proses yang konkrit dan terbuka, bukan dengan sistem yang ngawang dan tidak jelas alias ghoib sehingga menimbulkan ambiguitas yang berkepanjangan.
Seringkali penulis menemukan korban-korban pencurian barang-barang yang cukup bernilai mencari jalan pintas dengan cara melapor ke orang yang dianggap bisa menerawang si pencuri. Mereka menganggap hal ini bisa secara praktis dan cepat memberikan jawaban kepada korban terkait identitas si pencuri. Kekuatan gaib yang dimiliki si penerawang tersebut dianggapnya mampu menemukan si pencuri. Namun, dalam pengamatan penulis selama hidup di dunia ini, tidak ada satupun kasus pencurian yang mampu diusut tuntas dengan teknik gaib ala si penerawang, yang ada si penerawang ini hanya memberikan jawaban yang ngawang alias tidak jelas, seperti “pencurinya tadi lari ke arah lor”, “pencurinya mungkin tetangga”, “pencurinya sepertinya masih sodara sama kamu”, “kamu sering berbicara dengan si pencuri di warung kopi, tapi tidak tahu”, “ciri-cirinya hidungnya pesek, perawakannya pendek dan hitam”, “kemungkinan besar, si pencurinya adalah orang yang satu kontrakan”, begitulah kira-kira jawaban yang sering penulis dengar dari korban yang mengadu kepada si orang pintar, ahli menerawang.
Sepintas, hal ini tidak menjadi masalah, wajar dan maklum saja ikhtiar seperti ini di kalangan kita, namun tidakkah sahabat-sahabat melihat ada potensi fitnah dari statemen-statemen dari si penerawang tersebut? Terdapat statemen yang secara jelas mencoba menuduh dan memfitnah tetangga, teman satu kos, bahkan saudara sendiri tanpa proses pengusutan yang jelas dan sistematis! Ini adalah sebuah problem sosial yang sederhana, namun berdampak luas bagi interaksi sosial. Semisal si Komar dan si Kardun adalah teman satu kos, kemudian handphone si Komar hilang, setelah itu, si Komar mengadu kepada seseorang yang dianggap bisa menerawang pencuri, lalu si penerawang berkata bahwa pencurinya kemungkinan besar adalah teman satu kosnya sendiri. Secara sederhana, pastilah si Komar di dalam hatinya akan menuduh si Kardun sebagai pencuri handphone nya, padahal si Kardun tidak pernah mengambil handphone si Komar, dan pada akhirnya, si Kardun mengetahuinya dari orang lain bahwa si Komar menuduhnya mencuri, dan merengganglah persahabatan keduanya. Meski sejatinya si Kardun tidak mencuri, tapi beban di hatinya membuat dia enggan berteman dengan si Komar lagi karena tidak diterima dituduh pencuri, dituduh dari belakang pula. Penulis berpikir alangkah besarnya dosa si penerawang yang karena statemennya, suatu ikatan pesahabatan menjadi renggang. Entahlah, dosa atau tidak dosa, itu urusan Tuhan. Namun yang patut digarisbawahi dari kasus ini adalah, apakah jalan macam ini adalah jalan yang waras yang bisa ditempuh korban pencurian dalam mengusut kasus pencurian? Penulis menegaskan bahwa ikhtiar seperti ini adalah ikhtiar yang TIDAK WARAS! Rasulullah tidak pernah mengajarkan sistem seperti ini, pun secara kontekstual, Rasulullah malah mengajarkan ikhtiar yang lebih waras melalui syariah jinayaat, mungkin yang melakukan hal-hal diatas perlu mengkaji kembali bagaimana tuntutan Rasulullah terkait bab jinayat, sehingga kembali ke jalan yang benar.
Penulis sebagai pemeluk agama islam percaya pada hal-hal ghoib. Malaikat dan Jin merupakan hal yang ghoib dan benar adanya, namun kepercayaan tersebut tidak terbangun atas dasar menduga-duga saja yang kemudian menimbulkan ketidakjelasan dan fitnah, namun dibangun atas dasar pondasi keilmuan yang jelas, melalui ngaji kitab-kitab teologis macam aqidatul awam, tijan addarory, jawaahirul kalamiyah, addasuqy ummu barohin, dll. Penulis tidak menafikan bahwa ada orang-orang yang memiliki kemampuan diatas orang normal, seperti mampu melihat jin, melihat malaikat, dan melihat hal-hal gaib lainnya. Namun, penulis secara pribadi menyarankan kepada sahabat-sahabat, ketika problem yang dihadapi adalah terkait interaksi terhadap manusia (hablumminannas), selesaikanlah di alam manusia, tidak perlu melibatkan alam gaib, jika memang ingin melibatkan sesuatu yang gaib, memintalah pertolongan kepada Dzat Sang Maha Ghaib, yakni Allah SWT, karena itulah yang benar, bukan malah meminta bantuan si penerawang yang menerawang ke awang-awang dan masih ngawang.
Mohon maaf apabila ada kata yang salah, karena penulis pun masih dalam proses belajar dan terus mencoba memperbaiki kesalahan, dan mohon maaf apabila ada yang tersudutkan oleh coretan ini, penulis hanya ingin mengutarakan suatu hal yang menurut penulis penting untuk disampaikan. Semoga kita semua terhindar dari fitnah sewaktu hidup dan fitnah setelah meninggal dunia, serta fitnah kubro dajjal. Amin. Wallahu’alam.

Wassalamualaikum.


Malang (Kosan Konco), 27/07/2016 01.10 WIB

Monday, 28 March 2016

Apa Itu Esai?

18:53 Posted by Bbhj , , , No comments
Sumber Ilustrasi : darkzone7.blogspot.com
Esai sering juga disebut artikel, tulisan, atau komposisi. Dalam arti yang lebih luas, esai juga dipahami sebagai sebuah karangan. Secara umum, esai didefinisikan sebagai sebuah karangan singkat yang berisi pendapat atau argumen penulis tentang suatu topik. Biasanya, seseorang menulis esai karena ia ingin memberikan pendapat terhadap suatu persoalan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Penulis esai, atau sering disebut esais, dapat juga mengupas suatu topik atau persoalan dan memberikan tanggapan dan pendapatnya atas topiik atau persoalan yang dibahasnya. Secara umum, esai memiliki beberapa ciri yang menonjol.
Ciri pertama berkaitan dengan jumlah kata dalam sebuah esai. Memang tidak ada aturan baku yang menyebutkan berapa jumlah kata dalam sebuah esai. Patokannya adalah bahwa sebuah esai harus selesai dibaca dalam sekali duduk. Pengertian ini bisa diilustrasikan sebagai berikut. Ketika seseorang sedang duduk menunggu giliran periksa kesehatan di sebuah klinik, dia harus sudah selesai membaca sebuah esai saat dia berdiri dipanggil masuk ke kamar periksa. Meskipun aturan ini tidak begitu jelas, patokan "sekali duduk" ini cukup membantu ketika seseorang ingin menulis sebuah esai.
Terkait dengan jumlah kata ini, beberapa buku komposisi memberikan batasan yang lebih jelas. Sebuah karangan dikategorikan esai bila karangan tersebut berjumlah antara 500 sampai dengan 1500 kata. Bila diketik dalam bentuk dokumen microsoft word, panjang sebuah esai berkisar antara tiga sampai dengan tujuh halaman ukuran kertas A4 yang diketik dengan font berukuran 12 dan berspasi ganda. Sebuah esai yang melebihi 1500 kata, misalnya 3000 atau 4000 kata, akan digolongkan sebagai extended essay (esai yang diperpanjang).
Ciri lain esai adalah struktur penulisannya. Struktur esai terbagi dalam tiga bagian yang diwujudkan dalam bentuk paragraf. Bagian pertama esai adalah paragraf pendahuluan atau pengantar. Dalam bagian ini, penulis memberikan pengantar yang mencukupi dan relevan tentang topik yang ia tulis. Yang paling penting dalam paragraf pendahuluan adalah kalimat tesis (thesis statement) yang berfungsi sebagai gagasan pengontro (controlling idea) untuk bagian isi esai. Bagian kedua adalah paragraf-paragraf isi yang merupakan penjabaran atau pembahasan lebih lanjut dari gagasan yang ingin disampaikan penulis. Jumlah paragraf dalam bagian ini tergantung dari jumlah gagasan utama yang hendak disampaikan dalam esai. Bagian terakhir adalah paragraf penutup. Bagian ini dapat berisi ringkasan dari gagasan yang telah disampaikan dalam isi esai atau penegasan atas gagasan utama yang telah disampaikan.
Ciri yang paling membedakan esai dengan jenis karangan lain berkaitan dengan gaya bahasa. Pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya penulisan merupakan hal terkait erat dengan penulis esai. Penulis esai yang berpengalaman biasanya memiliki ciri tertentu ketika menulis esai. Semakin sering seseorang menulis esai, semakin mudah gaya bahasa orang tersebut dikenali. Misalnya, esai tulisan Gunawan Muhamad tentu berbeda dengan esai yang ditulis oleh Bakti Samanto atau oleh Umar Kayam. Keunikan gaya bahasa ini menjadi ciri esai yang menonjol. 
Sebagai simpulan, esai merupakan buah pikir yang ditulis secara ringkas. Topik apa pun dapat ditulis dalam bentuk esai. Karena itu esai menjadi salah satu jenis tulisan yang sering dijadikan alat uji untuk mengukur intelegensi seseorang. Seorang yang  berpengetahuan luas akan dapat menyampaikan gagasannya secara runtut, logis, dan menarik. Semakin sering kita membaca, semakin besar kemungkinan kita untuk dapat menulis esai dengan baik.Dengan banyak membaca, kita akan memiliki lebih banyak gagasan untuk ditulis. Persoalan utamanya tinggal mewujudkan gagasan yang sudah tertanam dalam benak kita melalui tulisan yang harus terus-menerus kita latih agar semakin lama semakin sempurna. Selamat mencoba.

Sumber :http://www.menulisesai.com/2012/09/apa-itu-artikel.html

Sunday, 13 March 2016

Saat Bertemu Ridwan Kamil, Sang Mayor Bandung

14:35 Posted by Bbhj , , , , , 3 comments
Oleh : Fawwaz M. Fauzi

Bandung hari itu, penulis bersama sahabat memang sengaja mengunjungi Kota Bandung, katanya mereka ingin jalan-jalan ke Bandung, menikmati keindahan Bandung. “Okelah, saya antar kesana,” berhubung penulis memang asli dari Jawa Barat, Majalengka tepatnya. Tapi sahabat-sahabat Jawa Timur penulis, rata-rata menganggap penulis berasal dari Bandung, meskipun penulis sudah berulang kali jelaskan, bahwa dari rumah penulis menuju Bandung itu perlu waktu sekitar 3-4 jam, dan Jawa Barat bukan hanya Bandung, tapi tetap saja dengan pandangan globalnya, kalo penulis tetap di klaim sebagai orang Bandung, haduh.
 Ya, siang tadi kami baru saja sampai rumah penulis di Majalengka (salah satu kabupaten di Jawa Barat), perjalanan dari Malang ke Cirebon agaknya membuat rasa lelah menghampiri. Kami beristirahar sejenak, melepas lelah. Hingga sore hari, barulah kami memutuskan untuk berangkat ke Kota Bandung, kota yang sangat ingin di kunjungi sahabat-sahabat saya. Oke-oke. Dengan meminjam mobil milik ayahanda penulis, kami berangkat ke Bandung. Disana, kami menikmati keindahan kota Bandung, kota yang terkenal dengan lagunya “Halo-halo Bandung” dan makin terkenal karena Walikota keren, Pak Ridwal Kamil (Kang Emil), yang mampu menyulap Bandung menjadi lebih populer dengan capaian-capaian yang sering terlihat di postingan fanspage beliau, begitu kata sahabat-sahabat penulis.
Esok harinya, kami bertolak dari Bandung menuju ke rumah penulis. Di tengah perjalanan, kami berhenti di ATM Center yang berdampingan dengan sebuah minimarket. Akhirnya, penulis memarkir kendaraan di pinggir jalan. Dalam prosesnya, memarkirnya sangat sulit, namun penulis dibantu oleh seseorang yang memandu parkir sehingga terasa lebih mudah. Ketika penulis keluar dari kendaraan, sontak penulis kaget, karena ternyata yang membantu penulis dalam memarkir mobil adalah Kang Emil, Sang Walikota Bandung. Ha? Masa si?
“Kang Emil ya?”, tanya penulis.
“Iya kang, saya Ridwan Kamil, Walikota kota ini.”, jawab beliau dengan santun.
Wah, penulis masih terheran-heran dengan kondisi ini. Pun demikian sahabat-sahabat penulis. Bisa-bisanya ketemu Kang Emil di depan ATM Center, bantuin parkir mobil pula. Tak habis fikir. Akhirnya kami pun berkenalan dan bersalaman satu per satu. Penulis yang sudah sedikit mencoba merasa terbiasa menghadapi orang-orang besar dalam berdialog, dengan santai tapi deg-degan, penulis bertanya kepada Sang Walikota. “Setelah ini mau kemana pak?”
“Oh iya, saya ini mau pulang, kang. Selesai dari kantor. Tapi masih hoream. Istri saya masih ada urusan euy. Kalo di rumah gak ada istri teh kumaha kitu.”, tanggapnya.
“Wah, ikut kami saja dulu pak?”, celoteh sahabat dari penulis.
“Boleh, hayu atuh.”
Ha? Ko iso gelem? Gening daekeun? Kenapa dengan mudahnya beliau mengiyakan ajakan kami? Lagi-lagi suatu pertanyaan yang sulit terjawab. Ya sudahlah, akhirnya kami persilahkan beliau untuk masuk ke mobil. Daripada berpikir mengenai jawaban yang sulit ditemukan, penulis lebih berpikir pada konsep ada untungnya ketemu pak walkot Bandung, minimal bisa selfie sama beliau nantinya, hahaha.
Diperjalanan, kami berbincang banyak terkait pengembangan kota Bandung, baik dari sisi ekonomi kreatif, arsitektur, budaya dan teknologi. Kebetulan penulis dan sahabat-sahabat berkuliah di jurusan-jurusan sains, adapula yang teknik. Sehingga, obrolan dengan beliau pun, sedikit banyak nyambung ketika berbicara ke arah pengembangan sains dan teknologi, meski secara disiplin ilmu arsitektur yang merupakan background keilmuan beliau, penulis sama sekali tidak paham. Kami berbincang terkait bagaimana seharusnya kita selaku bangsa Indonesia ini bisa maju, memajukan Indonesia. Beliau menuturkan beberapa point-point yang penting dalam membangun bangsa. Penulis juga menuturkan gagasan-gagasan penulis dalam kaitannya membangun negeri ini, serta sedikit banyak memuji langkah beliau dalam proses berpolitiknya. Beliau telah membuktikan bahwa orang yang memiliki background non-social studies mampu memimpin sebuah kota dengan sangat baik. Terbukti dengan berbagai prestasi yang telah di raih. Sehingga, hal ini membuat penulis dan sahabat-sahabat termotivasi bahwa untuk memimpin negeri ini, tidak harus kita bersekolah di jurusan-jurusan yang berbau sosial. Kita yang ber background sains pun bisa. Bahkan dengan sangat baik, fakta memperlihatkan bahwa walikota seperti Kang Emil di Bandung dan Bu Risma di Surabaya yang keduanya berbackground Teknik mampu memimpin negeri ini dengan baik.
Keasyikan mengobrol membuat penulis lupa untuk bertanya dan memberi penjelasan kepada Kang Emil terkait tujuan kami selanjutnya adalah pulang ke rumah di Majalengka dan pada saat itu, kami sudah sampai di perbatasan Bandung-Sumedang. Lagi-lagi kami dikagetkan dengan jawaban beliau, “Oh, santai we lah. Saya ikut dulu ke Majalengka. Ntar pulangnya dianterkeun ku kang Fawwaz nya?”. Wah, perjalanan akan tambah seru ini bersama kang Emil. Saya mengangguk dengan matang diiringi dengan teriakan “SIAP KANG!!!”, menandakan bahwa penulis siap mengantar beliau kembali ke Bandung lagi nantinya. Tak apa penulis sedikit lelah, kapan lagi penulis dapat bertemu beliau seperti sekarang ini. Mau diajak ke rumah penulis pula. Mantep iki, Joss Tenan, ujar sahabat-sahabatku.
Kami melanjutkan perbincangan-perbincangan intelektual kami dengan beliau. Beliau menuturkan, bahwa pemimpin itu tidak ditentukan dari apa background study nya, pemimpin pasti dilihat dari apa visi misinya, apa programnya, apa langkahnya dan apa solusinya. Sehingga siapapun bisa jadi pemimpin. Namun memang menjadi lebih baik ketika pemimpin tersebut berlatarbelakang keilmuan sains dan teknik. Karena sejarah menuturkan bahwa perkembangan zaman hingga hari ini dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi secara signifikan. Ketika sepeti itu, secara praktis dapat diartikan bahwa kunci perubahan zaman itu terletak pada para saintis dan teknokrat. Kami manggut-manggut atas pernyataan tersebut. Beliau melanjutkan, bahwa itulah pentingnya seorang saintis dan teknokrat. Ketika memang pemimpinnya buat salahsatu dari kedua background keilmuan tersebut, minimal pemimpin itu memiliki visi-visi yang berkonsentrasi dan peduli kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) Indonesia ini. Ketika tidak seperti itu, lebih baik, para saintis dan teknokrat saja yang menjadi pemimpinnya.
Penulis kagum dengan gagasan-gagasan beliau, ternyata, sesuatu yang penulis yakini adalah sebuah keyakinan Kang Emil pula. Terkhusus gagasan kepemimpinan IPTEK. Lebih lanjut, kami bercerita, bahwa kami adalah mahasiswa di UIN Maliki Malang, kami juga berkuliah di jurusan-jurusan MIPA dan Teknik, kami juga aktif di organisasi intra maupun ekstra kampus, beliau mengacungi jempol terkait hal tersebut. Beliau bercerita bahwa dulu, beliau juga sangat aktif di organisasi-organisasi kemahasiswaan, sehingga pengalaman kepemimpinan ketika mahasiswa mampu menjadi pelajaran penting dalam praktik kepemimpinan di dunia nyata. “Memimpin pun perlu pembiasaan, dan mumpung dulu saya masih mahasiswa, saya membiasakan memimpin pada saat itu.”, begitu katanya. Beliau akhirnya bercerita tentang gagasan kepemimpinan transformatif yang isinya tak jauh berbeda dari apa yang pernah beliau sampaikan ketika seminar mahasiswa baru di ITB yang pernah penulis saksikan melalui channel youtube, yakni kepemimpinan transformatif itu harus memiliki sekurang-kurangnya 5 nilai, diantaranya inovatif, berani ambil resiko dengan kalkulatif, problem solver, Strong Will (melakukan apa yang dikonsepkan), dan visioner. Sehingga, dalam proses kepemimpinannya bisa menghasilkan produk-produk kebijakan yang maslahat dan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selanjutnya, kami menuturkan bahwa kami pernah mengundang Mas Ricky Elson dalam acara
OSPEK Fakultas untuk memotivasi adik-adik kami. Kami bercerita kepada beliau bahwa Mas Ricky adalah orang yang luar biasa. Keyakinannya, motivasinya, kekuatannya sangat menginspirasi bagi kami selaku generasi muda bangsa ini. Kang Emil manggut-manggut mendengar cerita kami. Penulis mengusulkan, mungkin kang Emil adalah salah satu pejabat yang bisa menggandeng mas Ricky dalam suatu proyek pembangunan teknologi di Bandung. penulis mengharapkan itu. Karena penulis paham betul, hingga saat ini, tidak ada lirikan sedikitpun dari pemerintah untuk memberdayakan anak bangsa yang prestatif seperti mas Ricky. Kecuali mungkin, mas Ricky mau untuk terjun di dunia politik seperti kang Emil. Mungkin akan sama hebatnya dengan kang Emil. Selain itu, kami pun bertanya akan kesediaannya untuk mengunjungi kampus kami, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, “Wah, kalo itu nanti di agendakeun we, gampang lah, nu penting saya lagi gak ada urusan yang penting pemerintahan.”, jawabnya. Wajah kami sumringah mendengarnya. Mudah-mudahan dengan segera beliau bisa bertandang ke kampus kami di Malang sana.
Tak terasa, kami bersama kang Emil sudah sampai di gang masuk rumah penulis. Perbincangan yang menarik membuat perjalanan ini terasa singkat. Sesampainya di rumah, penulis disambut orang tua penulis dan beberapa kerabat dekat. Penulis mempersilahkan kang Emil untuk turun dari mobil, orang tua dan kerabat penulis sangat terkejut melihatnya, kang Emil sang walikota Bandung itu mengunjungi rumah penulis. Semua masih terheran-heran, namun tidak lupa untuk tetap menjamu beliau. Beliau makan dengan ditemani kami dan paman dari penulis yang sebetulnya tinggal di Bandung. Namun, paman penulis memang sedang berlibur ke rumah penulis ceritanya. Obrolan kami disitu lebih kepada guyonan-guyonan pikaseurieun. Sehingga tak terasa, rasa lelah kami hilang dengan sendirinya. Hingga pada suatu waktu, kang Emil mendapati handphonenya berdering. Beliau sedikit menjauh dari kerumunan kami dan mengobrol dengan santai. Itu istrinya, tebak penulis. Benar saja, setelah menelepon, beliau mengajak penulis untuk mengantarkan beliau pulang ke Bandung. Orang tua penulis menawari untuk bermalam, namun kang Emil menolaknya secara halus, beliau harus bekerja untuk Bandung lagi esok hari. Sahabat dari penulis kemudian mengusulkan untuk berfoto bersama terlebih dahulu. Wah, betul juga, gumam penulis. Kami berfoto bersama, kemudian sahabat-sahabat bergantian meminta waktu untuk selfie bersama beliau. Penulis pun tak mau ketinggalan, Cekrek cekrek cekrek.
Mobil sudah penulis hidupkan kembali, kang Emil sudah mulai pamitan kepada orang-orang di rumah penulis. Tiba-tiba handphone penulis berdering, lagu “Pusing Pala Barbie” pun berdendang dengan kencang. “Ko nada deringnya ganti ya? Lagu ini kan untuk alarm”. Gumam penulis. Penulis mencoba mengabaikan perasaan itu dan mencoba untuk mengangkan teleponnya. Namun, teleponnya tak bisa di angkat, penulis tekan tombolnya berkali-kali, tetap saja tidak bisa. Tiba-tiba saja, penulis berpikir, apa ini memang alarm? Atau ini mimpi? Penulis mencoba melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Kagetlah penulis dan akhirnya terbangun dari tidur yang panjang. Ternyata handphone penulis memang berdering dan memang alarm lah yang berbunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Penulis duduk dengan perasaan yang bertanya-tanya, ternyata tadi hanya sebuah mimpi, sayang sekali. Gara-gara sebelum tidur, penulis sempat menonton video kang Emil ketika mengisi seminar, jadi kebawa mimpi. Yah, meskipun hanya mimpi, ini adalah sebuah mimpi yang berkualitas, mimpi yang menginspirasi, mimpi yang mentransformasi dan mimpi yang sangat luar biasa. Memang mimpi tak seburuk realita, namun terkadang, mimpi bisa lebih buruk dari realita. Semoga semua yang terwacanakan dalam mimpi mampu terealisasi di dunia nyata. Punten ke kang Emil yang sudah penulis tarik ke dalam mimpi penulis. :-D    Salam Transformasi! 

"Dimanapun kita berada, jadilah bagian dari solusi"

Kamus Sunda :
hoream : malas
kumaha kitu : gimana gitu
Hayu atuh : Ayo kalo gitu
Gening daekeun : kok mau?
dianterkeun : diantarkan
diagendakeun : diagendakan
pikaseurieun : membuat tawa

Sunday, 27 December 2015

Menjadi Primordialis yang Bijaksana

17:06 Posted by Bbhj , , , , No comments
Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

"Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan benar" ~ Imam Asy-Syafi'i

Selamat Dini Hari Kota Malang, kota yang ramai akan perbedaan. Dimana hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh banyaknya pengungsi akademik yang hijrah ke Kota Malang. Keberagaman Kota Malang adalah hal yang tak mungkin terelakkan, berbagai macam ras, suku, budaya, dan agama berbaur dalam suatu wilayah bernama Kota Malang.
Sejatinya, tak hanya kota malang saja yang memiliki warna warni keberagaman. Dalam konteks yang paling sederhana saja, perbedaan akan sangatlah tampak apabila kita mencoba mengamatinya secara mendalam. Seperti halnya dua bersaudara yang kembar identik, apabila kita mengamatinya dengan seksama atau mungkin karena telah terbiasa, kita dapat melihat banyak perbedaan, baik dari segi fisik maupun psikis. Sehingga, dari dua bersaudara itu saja, nampaklah perbedaan dan keberagaman dari berbagai sisi. Namun, ketika kita tak mengamatinya secara seksama, kita akan menganggap sang kembar identik itu sama dengan kembarannya. Tak ada perbedaan apapun.
Dari suatu sampel diatas, semisal kita adalah orang tuanya, apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi perbedaan dari si kembar yang katanya kembar identik? Apakah kita harus mengunggulkan salahsatunya? Apakah kita harus pilih kasih? Penulis kira, hal yang paling  bijak adalah dengan bersikap toleran, moderat, seimbang dan adil terhadap keduanya. Dengan begitu, kita telah bersikap bijaksana terhadap dua hal dimana kita tidak termasuk dalam sistemnya. Dan penulis fikir, ini adalah sikap yang sedikit mudah untuk direalisasikan dalam kehidupan bersosial kita.
Lantas, bagaimana ketika dalam keberagaman, kita termasuk dalam sistem tersebut? Semisal kita adalah bagian dari si kembar identik? Apakah kita harus kemudian mengunggulkan diri sendiri dan menjatuhkan kembaran kita? Atau malah sebaliknya? Bagaimana kita bersikap? Penulis kira, sikap yang paling bijak dalam menyikapinya adalah bersikap santai dan tetap berpegang teuh pada sikap toleran, moderat, seimbang dan adil. Selain itu, kita harus pula memegang prinsip, “Maju tanpa menyingkirkan orang lain, naik tanpa menjatuhkan orang lain, dan berbahagia tanpa menyakiti orang lain”. Sehingga, kita dapat hidup secara damai dan tetap bergandengan tangan meski banyak perbedaan pada diri kita dan orang lain. Namun, hal ini agaknya lebih sulit daripada ketika kita berada diluar system seperti pada perumpamaan pertama. Didalam sistem dimana kita termasuk kedalam sebuah bagian yang harus kita pertahankan adalah menjadi PR yang besar bagi kita semua untuk menjunjung tinggi keberagaman sebagai sunnatullah. Karena apabila kita tidak mampu untuk kemudian menghargai keberagaman, dampak sosialnya akanlah sangat besar. Hal ini disebabkan karena adanya sikap primordialis dan etnosentris dari diri kita masing-masing selaku actor sosial dalam sistem.
Primordialis adalah suatu sikap dimana kita memiliki kecenderungan dalam membela suatu golongan, terlebih kita termasuk kedalam golongan tersebut. Sedangkan etnosentris adalah sikap dimana suatu permasalahan hanya dilihat dari sudut pandang subjektif si pelaku primordial. Namun, sikap primordialis bukanlah hal negatif yang harus kita jauhi. Primordialis berbicara tentang pilihan hidup, dimana hidup adalah tentang bagaimana kita memilah dan memilih dengan berbagai pertimbangan rasional maupun irasional. Ketika kita sudah memilih satu pilihan, ada nilai-nilai substansial yang harus kita perjuangkan dan pertahankan sebagai konsekuensi dari pilihan tersebut. Sehingga kita secara tidak langsung diwajibkan untuk bersikap primordialis. Seperti contoh dalam hal beragama, penulis memilih beragama Islam dan sudah barang tentu menjadi kewajiban penulis untuk memperjuangkan dan mempertahankan nilai-nilai keislaman.
Selain dalam beragama, kita juga mengenal perbedaan-perbedaan dalam perihal suku, keturunan, klan, marga, organisasi, kelompok suporter, aliran, genre music, hobby, dan lain-lain. Kesemuanya adalah hal-hal yang secara tidak langsung mewajibkan kita untuk bersikap primordialis untuk memperjuangkan nilai-nilai yang menjadi alasan primordialis kita. Sehingga, menurut penulis, bersikap primordialis adalah sesuatu yang sah sah saja dalam kehidupan bersosial.
Namun, dibalik sikap primordialis yang ada. Banyak sisi-sisi negatif yang nampak, dimana hal tersebut dipengaruhi oleh mainset-mainset etnosentris yang berlebihan. Hal ini berdampak terhadap kehidupan sosial yang menjadi kacau dan tidak equilibrium. Perbedaan yang seharusnya menjadi hal yang patut kita syukuri, berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan dan nyaris tanpa ujung. Sebagai contoh, kita ketahui permusuhan yang terjadi antara blok barat (kapitalisme) dan blok timur (komunisme) pada saat perang dunia I dan II. Bahkan hingga saat ini, sisa-sisa permusuhan tersebut masih sangat sering kita dengar, walau masih dalam bahasa-bahasa konspirasi. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kita pasti mengetahui perseturuan antar suku di Indonesia, seperti halnya sunda dan jawa yang menurut berbagai sumber, bermula dari peristiwa perang bubat, dimana rombongan mempelai wanita dari kerajaan Sunda bernama Dyah Pitaloka yang akan dipersunting oleh Prabu Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit, dihabisi di lapangan bubat oleh prajurit Majapahit. Percaya atau tidak, hingga saat ini, sedikit sesepuh-sesepuh kita di tanah sunda dan jawa masih menganggap, pernikahan antara sunda dan jawa adalah suatu hal yang pamali untuk dilakukan. Masih dalam sampel permusuhan, kita juga mengetahui perseteruan antar organisasi mahasiswa PMII dan HMI, perseteruan antar suporter sepak bola (Viking vs The Jakmania, Aremania vs Bonek).
Dari berbagai contoh diatas, kita sejatinya dapat mengambil benang merah, dimana perseteruan-
perseteruan tersebut lahir dari sikap primordialis yang kurang bijaksana dan adanya etnosentrisme yang berlebihan. Merasa kelompoknya adalah yang paling benar dan akan membunuh siapapun yang berbeda dari apa yang dia pilih. Menurut penulis, ini adalah pemikiran yang sangat primitif dan tidak bijaksana. Hal ini wajib untuk kita tinggalkan, sikap primordialis yang tidak bijaksana.
Lantas bagaimanakah kita harus bersikap sehingga primordialisme kita tidak menyebabkan etnosentrisme berlebihan yang menyebabkan intolerasi terhadap sesama? Sebelumnya, lagi-lagi kita harus memahami, bahwa perbedaan adalah sebuah rahmat dari Allah SWT yang wajib kita syukuri. Allah juga memerintahkan kita untuk saling mengenal, mengerti dan memahami satu sama lain, tanpa perlu mengorbankan eksistensi primordialisme kita (Waja’alnakum syu’uban waqobaa’ila lita’arofuu). Seperti halnya dengan apa yang telah dilakukan oleh sahabat-sahabat dari penulis di Komunitas Gusdurian Malang, dimana sahabat-sahabat GD mengunjungi gereja dalam perayaan natal kemarin untuk menunjukkan rasa saling mengerti, memahami, dan toleran, tentunya tanpa mengorbankan eksistensi primordialis keislamannya. Mereka tetap bagian dari Islam meskipun mereka datang ke Gereja, karena tidak kemudian mengubah keyakinan mereka akan kebenaran Islam. Dengan demikian, keberagaman menjadi sesuatu yang indah, sesuatu yang sangat menyejukkan, berharga, memberikan rasa aman terhadap sesama dan patut kita syukuri bersama. Tidak kemudian menjadi modal permusuhan antar sesama, seperti yang banyak terjadi belakangan ini.
Kita sebagai bangsa Indonesia, dimana Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, berbagai macam tradisi, dan berbagai macam keyakinan beragama, sangat rentan akan perpecahan dan konflik akibat sikap primordialis yang tidak bijaksana. Sehingga, sudah sepatutnya kita bersama-sama menghargai perbedaan atas sesama. Seperti semboyan negara kita “Bhinneka Tunggal Ika, (Berbeda-beda tapi tetap satu jua)”, mari kita bersatu dalam perbedaan, menuju Indonesia berkemajuan. Dan mari kita junjung tinggi sifat Tasamuh (toleran), Tawazun (seimbang), Tawassuth (moderat), dan Ta’addul (adil) sehingga kita dapat menjadi seorang primordialis yang bijaksana. Wallahu a’lam.


Malang, 26/12/15 03.05 WIB