Oleh : Fawwaz M. Fauzi
Bandung hari itu, penulis bersama sahabat
memang sengaja mengunjungi Kota Bandung, katanya mereka ingin jalan-jalan ke
Bandung, menikmati keindahan Bandung. “Okelah, saya antar kesana,” berhubung
penulis memang asli dari Jawa Barat, Majalengka tepatnya. Tapi sahabat-sahabat
Jawa Timur penulis, rata-rata menganggap penulis berasal dari Bandung, meskipun
penulis sudah berulang kali jelaskan, bahwa dari rumah penulis menuju Bandung itu
perlu waktu sekitar 3-4 jam, dan Jawa Barat bukan hanya Bandung, tapi tetap
saja dengan pandangan globalnya, kalo penulis tetap di klaim sebagai orang
Bandung, haduh.
Ya,
siang tadi kami baru saja sampai rumah penulis di Majalengka (salah satu
kabupaten di Jawa Barat), perjalanan dari Malang ke Cirebon agaknya membuat
rasa lelah menghampiri. Kami beristirahar sejenak, melepas lelah. Hingga sore
hari, barulah kami memutuskan untuk berangkat ke Kota Bandung, kota yang sangat
ingin di kunjungi sahabat-sahabat saya. Oke-oke. Dengan meminjam mobil milik
ayahanda penulis, kami berangkat ke Bandung. Disana, kami menikmati keindahan
kota Bandung, kota yang terkenal dengan lagunya “Halo-halo Bandung” dan makin
terkenal karena Walikota keren, Pak Ridwal Kamil (Kang Emil), yang mampu
menyulap Bandung menjadi lebih populer dengan capaian-capaian yang sering
terlihat di postingan fanspage beliau, begitu kata sahabat-sahabat penulis.
Esok harinya, kami bertolak dari Bandung
menuju ke rumah penulis. Di tengah perjalanan, kami berhenti di ATM Center yang
berdampingan dengan sebuah minimarket. Akhirnya, penulis memarkir kendaraan di
pinggir jalan. Dalam prosesnya, memarkirnya sangat sulit, namun penulis dibantu
oleh seseorang yang memandu parkir sehingga terasa lebih mudah. Ketika penulis
keluar dari kendaraan, sontak penulis kaget, karena ternyata yang membantu
penulis dalam memarkir mobil adalah Kang Emil, Sang Walikota Bandung. Ha? Masa
si?
“Kang Emil ya?”, tanya penulis.
“Iya kang, saya Ridwan Kamil, Walikota kota ini.”,
jawab beliau dengan santun.
Wah, penulis masih terheran-heran dengan
kondisi ini. Pun demikian sahabat-sahabat penulis. Bisa-bisanya ketemu Kang
Emil di depan ATM Center, bantuin parkir mobil pula. Tak habis fikir. Akhirnya
kami pun berkenalan dan bersalaman satu per satu. Penulis yang sudah sedikit mencoba merasa
terbiasa menghadapi orang-orang besar dalam berdialog, dengan santai tapi deg-degan, penulis bertanya
kepada Sang Walikota. “Setelah ini mau kemana pak?”
“Oh iya, saya ini mau pulang, kang. Selesai
dari kantor. Tapi masih hoream. Istri saya masih ada urusan euy.
Kalo di rumah gak ada istri teh kumaha kitu.”, tanggapnya.
“Wah, ikut kami saja dulu pak?”, celoteh
sahabat dari penulis.
“Boleh, hayu atuh.”
Ha? Ko iso gelem? Gening daekeun?
Kenapa dengan mudahnya beliau mengiyakan ajakan kami? Lagi-lagi suatu
pertanyaan yang sulit terjawab. Ya sudahlah, akhirnya kami persilahkan beliau
untuk masuk ke mobil. Daripada berpikir mengenai jawaban yang sulit ditemukan,
penulis lebih berpikir pada konsep ada untungnya ketemu pak walkot Bandung,
minimal bisa selfie sama beliau nantinya, hahaha.
Diperjalanan, kami berbincang banyak terkait
pengembangan kota Bandung, baik dari sisi ekonomi kreatif, arsitektur, budaya
dan teknologi. Kebetulan penulis dan sahabat-sahabat berkuliah di
jurusan-jurusan sains, adapula yang teknik. Sehingga, obrolan dengan beliau
pun, sedikit banyak nyambung ketika berbicara ke arah pengembangan sains
dan teknologi, meski secara disiplin ilmu arsitektur yang merupakan background
keilmuan beliau, penulis sama sekali tidak paham. Kami berbincang terkait
bagaimana seharusnya kita selaku bangsa Indonesia ini bisa maju, memajukan
Indonesia. Beliau menuturkan beberapa point-point yang penting dalam membangun
bangsa. Penulis juga menuturkan gagasan-gagasan penulis dalam kaitannya
membangun negeri ini, serta sedikit banyak memuji langkah beliau dalam proses
berpolitiknya. Beliau telah membuktikan bahwa orang yang memiliki background
non-social studies mampu memimpin sebuah kota dengan sangat baik. Terbukti
dengan berbagai prestasi yang telah di raih. Sehingga, hal ini membuat penulis
dan sahabat-sahabat termotivasi bahwa untuk memimpin negeri ini, tidak harus
kita bersekolah di jurusan-jurusan yang berbau sosial. Kita yang ber background
sains pun bisa. Bahkan dengan sangat baik, fakta memperlihatkan bahwa walikota
seperti Kang Emil di Bandung dan Bu Risma di Surabaya yang keduanya
berbackground Teknik mampu memimpin negeri ini dengan baik.
Keasyikan mengobrol membuat penulis lupa untuk
bertanya dan memberi penjelasan kepada Kang Emil terkait tujuan kami
selanjutnya adalah pulang ke rumah di Majalengka dan pada saat itu, kami sudah
sampai di perbatasan Bandung-Sumedang. Lagi-lagi kami dikagetkan dengan jawaban
beliau, “Oh, santai we lah. Saya ikut dulu ke Majalengka. Ntar pulangnya dianterkeun
ku kang Fawwaz nya?”. Wah, perjalanan akan tambah seru ini bersama kang Emil.
Saya mengangguk dengan matang diiringi dengan teriakan “SIAP KANG!!!”,
menandakan bahwa penulis siap mengantar beliau kembali ke Bandung lagi
nantinya. Tak apa penulis sedikit lelah, kapan lagi penulis dapat bertemu
beliau seperti sekarang ini. Mau diajak ke rumah penulis pula. Mantep iki,
Joss Tenan, ujar sahabat-sahabatku.
Kami melanjutkan perbincangan-perbincangan
intelektual kami dengan beliau. Beliau menuturkan, bahwa pemimpin itu tidak
ditentukan dari apa background study nya, pemimpin pasti dilihat dari apa visi
misinya, apa programnya, apa langkahnya dan apa solusinya. Sehingga siapapun
bisa jadi pemimpin. Namun memang menjadi lebih baik ketika pemimpin tersebut
berlatarbelakang keilmuan sains dan teknik. Karena sejarah menuturkan bahwa
perkembangan zaman hingga hari ini dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan
teknologi secara signifikan. Ketika sepeti itu, secara praktis dapat diartikan
bahwa kunci perubahan zaman itu terletak pada para saintis dan teknokrat. Kami
manggut-manggut atas pernyataan tersebut. Beliau melanjutkan, bahwa itulah
pentingnya seorang saintis dan teknokrat. Ketika memang pemimpinnya buat
salahsatu dari kedua background keilmuan tersebut, minimal pemimpin itu
memiliki visi-visi yang berkonsentrasi dan peduli kepada pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) Indonesia ini. Ketika tidak seperti itu, lebih baik, para
saintis dan teknokrat saja yang menjadi pemimpinnya.
Penulis kagum dengan gagasan-gagasan beliau,
ternyata, sesuatu yang penulis yakini adalah sebuah keyakinan Kang Emil pula.
Terkhusus gagasan kepemimpinan IPTEK. Lebih lanjut, kami bercerita, bahwa kami
adalah mahasiswa di UIN Maliki Malang, kami juga berkuliah di jurusan-jurusan
MIPA dan Teknik, kami juga aktif di organisasi intra maupun ekstra kampus,
beliau mengacungi jempol terkait hal tersebut. Beliau bercerita bahwa dulu,
beliau juga sangat aktif di organisasi-organisasi kemahasiswaan, sehingga
pengalaman kepemimpinan ketika mahasiswa mampu menjadi pelajaran penting dalam
praktik kepemimpinan di dunia nyata. “Memimpin pun perlu pembiasaan, dan
mumpung dulu saya masih mahasiswa, saya membiasakan memimpin pada saat itu.”,
begitu katanya. Beliau akhirnya bercerita tentang gagasan kepemimpinan
transformatif yang isinya tak jauh berbeda dari apa yang pernah beliau sampaikan
ketika seminar mahasiswa baru di ITB yang pernah penulis saksikan melalui channel
youtube, yakni kepemimpinan transformatif itu harus memiliki
sekurang-kurangnya 5 nilai, diantaranya inovatif, berani ambil resiko dengan
kalkulatif, problem solver, Strong Will (melakukan apa yang
dikonsepkan), dan visioner. Sehingga, dalam proses kepemimpinannya bisa
menghasilkan produk-produk kebijakan yang maslahat dan dapat dirasakan oleh
seluruh lapisan masyarakat.
Selanjutnya, kami menuturkan bahwa kami pernah
mengundang Mas Ricky Elson dalam acara
OSPEK Fakultas untuk memotivasi
adik-adik kami. Kami bercerita kepada beliau bahwa Mas Ricky adalah orang yang
luar biasa. Keyakinannya, motivasinya, kekuatannya sangat menginspirasi bagi
kami selaku generasi muda bangsa ini. Kang Emil manggut-manggut mendengar
cerita kami. Penulis mengusulkan, mungkin kang Emil adalah salah satu pejabat
yang bisa menggandeng mas Ricky dalam suatu proyek pembangunan teknologi di
Bandung. penulis mengharapkan itu. Karena penulis paham betul, hingga saat ini,
tidak ada lirikan sedikitpun dari pemerintah untuk memberdayakan anak bangsa
yang prestatif seperti mas Ricky. Kecuali mungkin, mas Ricky mau untuk terjun
di dunia politik seperti kang Emil. Mungkin akan sama hebatnya dengan kang Emil.
Selain itu, kami pun bertanya akan kesediaannya untuk mengunjungi kampus kami,
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, “Wah, kalo itu nanti di agendakeun we,
gampang lah, nu penting saya lagi gak ada urusan yang penting pemerintahan.”,
jawabnya. Wajah kami sumringah mendengarnya. Mudah-mudahan dengan segera beliau
bisa bertandang ke kampus kami di Malang sana.
Tak terasa, kami bersama kang Emil sudah
sampai di gang masuk rumah penulis. Perbincangan yang menarik membuat
perjalanan ini terasa singkat. Sesampainya di rumah, penulis disambut orang tua
penulis dan beberapa kerabat dekat. Penulis mempersilahkan kang Emil untuk
turun dari mobil, orang tua dan kerabat penulis sangat terkejut melihatnya,
kang Emil sang walikota Bandung itu mengunjungi rumah penulis. Semua masih
terheran-heran, namun tidak lupa untuk tetap menjamu beliau. Beliau makan
dengan ditemani kami dan paman dari penulis yang sebetulnya tinggal di Bandung.
Namun, paman penulis memang sedang berlibur ke rumah penulis ceritanya. Obrolan
kami disitu lebih kepada guyonan-guyonan pikaseurieun. Sehingga tak
terasa, rasa lelah kami hilang dengan sendirinya. Hingga pada suatu waktu, kang
Emil mendapati handphonenya berdering. Beliau sedikit menjauh dari kerumunan
kami dan mengobrol dengan santai. Itu istrinya, tebak penulis. Benar saja,
setelah menelepon, beliau mengajak penulis untuk mengantarkan beliau pulang ke
Bandung. Orang tua penulis menawari untuk bermalam, namun kang Emil menolaknya
secara halus, beliau harus bekerja untuk Bandung lagi esok hari. Sahabat dari
penulis kemudian mengusulkan untuk berfoto bersama terlebih dahulu. Wah, betul
juga, gumam penulis. Kami berfoto bersama, kemudian sahabat-sahabat bergantian
meminta waktu untuk selfie bersama beliau. Penulis pun tak mau
ketinggalan, Cekrek cekrek cekrek.
Mobil sudah penulis hidupkan kembali, kang
Emil sudah mulai pamitan kepada orang-orang di rumah penulis. Tiba-tiba
handphone penulis berdering, lagu “Pusing Pala Barbie” pun berdendang dengan
kencang. “Ko nada deringnya ganti ya? Lagu ini kan untuk alarm”. Gumam penulis.
Penulis mencoba mengabaikan perasaan itu dan mencoba untuk mengangkan teleponnya.
Namun, teleponnya tak bisa di angkat, penulis tekan tombolnya berkali-kali,
tetap saja tidak bisa. Tiba-tiba saja, penulis berpikir, apa ini memang alarm?
Atau ini mimpi? Penulis mencoba melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa.
Kagetlah penulis dan akhirnya terbangun dari tidur yang panjang. Ternyata
handphone penulis memang berdering dan memang alarm lah yang berbunyi. Waktu
sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Penulis duduk dengan perasaan yang
bertanya-tanya, ternyata tadi hanya sebuah mimpi, sayang sekali. Gara-gara
sebelum tidur, penulis sempat menonton video kang Emil ketika mengisi seminar,
jadi kebawa mimpi. Yah, meskipun hanya mimpi, ini adalah sebuah mimpi yang
berkualitas, mimpi yang menginspirasi, mimpi yang mentransformasi dan mimpi
yang sangat luar biasa. Memang mimpi tak seburuk realita, namun terkadang, mimpi bisa lebih buruk dari realita. Semoga semua yang terwacanakan dalam mimpi mampu
terealisasi di dunia nyata. Punten ke kang Emil yang sudah penulis tarik
ke dalam mimpi penulis. :-D Salam
Transformasi!
"Dimanapun kita berada, jadilah bagian dari solusi"
kumaha kitu : gimana gitu
Hayu atuh : Ayo kalo gitu
Gening daekeun : kok mau?
dianterkeun : diantarkan
diagendakeun : diagendakan
pikaseurieun : membuat tawa
Kamus Sunda :hoream : malas
kumaha kitu : gimana gitu
Hayu atuh : Ayo kalo gitu
Gening daekeun : kok mau?
dianterkeun : diantarkan
diagendakeun : diagendakan
pikaseurieun : membuat tawa





