Sunday, 23 October 2016

Surat Sahabat di Pesantren

09:54 Posted by Bbhj , , , No comments
Assalamualaikum Wr. Wb 
Mar, bagaimana kabarmu? Semoga kamu tetap sehat wal afiat. Maaf alumni-an kemarin aku belum sempat berkunjung ke pondok dan ngopi bareng. Biasa mar, mahasiswa tingkat akhir sedikit lebay mengurusi tugas akhir. Biar nanti bisa dapat tambahan nama dibelakang nama hasil pemberian orang tuaku, hehe. Maka aku memutuskan untuk menulis surat saja, meski sudah ada facebook dan media sosial untuk saling sapa, tapi aku tak tertarik menggunakannya. Aku ingin mencoba metode jadul dalam bertegur sapa denganmu, lewat surat ini. 
Aku dengar, kau sekarang dekat dengan Akang. Aku senang mendengarnya mar, kemana-mana kau selalu menemani akang, dari desa ke desa, kota ke kota, menemani beliau ceramah dan memberikan pesan moral keagamaan. Kau jangan berkecil hati mar, profesi supir itu memang terkesan sebagai profesi rendahan, sedangkan menjadi supir kyai adalah kemulian, pahalanya berlipat-lipat. Dan kau pasti paham, bahwa yang kau lakukan bukanlah sebuah pekerjaan, tapi pengabdian. 
Aku hanya ingin sedikit bercerita mar, bahwa sekarang caraku memaknai kitab kuning berbeda. Kalo di Pondok kita dulu, “Mubtada” dimaknani “Ari”, “Khobar” dimaknani “Eta”, Sifat dimaknami “Anu”, sekarang disini aku harus melakukan beberapa pergantian CARA MAKNANI agar lebih mudah beradaptasi dalam pembelajaran. Sekarang “Mubtada” menjadi “Utawi”, “Khobar” menjadi “Iku”, “Sifat” menjadi “Kang”, dan lain-lain. Aku juga harus belajar bahasa jawa untuk berkomunikasi dengan sesama santri dan mahasiswa disini.  
Disini semua disiplin ilmu dipelajari. Tauhid, Nahwu, Shorof, Fiqh, dll dengan tingkatan kitab yang berbeda sesuai kelasnya. Kalau masih kelas ibtida, kitab yang dikaji mungkin mabadi fiqh, jurumiyah, tijan, dan kitab akhlak macam akhlaqul banin. Kitab yang dikaji akan semakin sulit ketika sudah naik kelas. Sistem begini ini berbeda dengan pondok kita dulu, yang terkonsentrasi belajar 1 disiplin ilmu itu saja sampai benar-benar tau luar dalam kitabnya. 
Kalo aku perhatikan mar, inilah yang membedakan antara sistem pendidikan pesantren di Jabar dan Jateng-Jatim. Di Jabar, kita akan kenal sebuah pesantren dengan spesifikasi khusus dalam suatu displin keilmuan, misalnya Pesantren Haurkuning Spesialis Ilmu Nahwu Shorof, Pesantren Manonjaya Spesialis Ilmu Ketauhidan, Pesantren Cikole Spesialis Ilmu Fiqh/Ushul Fiqh, Pesantren Suryalaya Spesialis Ilmu Thoriqoh & Tasawwuf, dll. Sedangkan kita tidak bisa mengklasifikasi pesantren di Jateng/Jatim dengan konsentrasi disiplin ilmu tertentu, meski ada beberapa pesantren yang juga demikian.
Mana yang lebih baik Mar? Menurutku sama-sama baik Mar. Tinggal bagaimana kita selaku santri mencoba untuk belajar mengikuti sistem yang dibangun.  Kalau dengan sistem ala Jawa Barat, kita akan sangat menguasai satu disiplin ilmu, namun perlu semacam ngetrip dulu ke pesantren-pesantren lainnya untuk memahami disiplin ilmu lainnya. Kau pasti lebih tau Mar, bagaimana mata rantai kajian kitab klasik di Jawa Barat itu saling berhubungan dari pesantren ke pesantren, sanadnya juga jelas. Beda denganku ini, yang mondoknya ala zaman pra-sejarah, pake sistem nomaden, alias pindah-pindah. Nah, kalo ala Jatim/Jateng, bisa dibilang, cukup satu pesantren saja. Karena didalamnya memuat sistem pengajian diniyyah yg kurikulumnya tertata. Dari Jurumiyah hingga Kawakib Dzurriyyah, dari Aqidatul Awam hingga Dasuqi Ummul Barohin. 
Begitulah asumsiku tentang khazanah kepesantrenan di Jawa Mar. Sistem dan kurikulum yang dibangun oleh tiap pesantren sering berbeda Mar, tapi setiap pesantren tidak pernah lepas dari koridor madzhabi dan manhaji Ahlussunnah Wal Jamaah. Dan yang terpenting, tidak ada istilah bentrok antar pesantren karena sebuah perbedaan, yang ada adalah saling membangun satu sama lain. Beda dengan SMA diluar sana, dikit-dikit ngajak ribut, ibarat dalam istilah perkoploan, senggol bacok. 
Di pesantren, akang selalu mengajarkan bagaimana kita harus menghormati perbedaan, aku masih ingat saat itu Mar. Akang bilang, dalam belajar kitab klasik, kita akan menemukan berbagai macam pendapat ulama yang mengambil kesimpulan yang berbeda. Beliau mencontohkannya dengan kalimat NIAT PUASA, dimana lafadz “ramadhan-nya” bisa dikasroh, bisa juga difathah. Aku tau betul itu Mar, ketika kita ditanyai akang, saat itu kau menjawab kasroh, sedangkan aku menjawab fathah. Dengan berbagai referensi yang kita lontarkan. Kita sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Setelah itu, akang menyela dan dengan santainya berbicara, bahwa keduanya adalah pendapat yang benar. Akhirnya kita hanya diam dan menganggukkan kepala akan penjelasan akang. Beliau menjelaskan sebuah pesan yang begitu mendasar dari lafadz “ramadhan” itu, HORMATILAH PERBEDAAN PENDAPAT. 
Hal ini tidak terdapat dalam konsep pembelajaran di sekolah umum Mar. Aku sungguh menyayangkan itu. Kau pasti juga masih ingat, bagaimana buku sejarah di sekolah dulu memberitakan kebrutalan PKI dalam tragedi G30S. Kita digambarkan bahwa GERWANI itu pesta seks dan memotong kemaluan para Pahlawan Revolusi itu. Kau mungkin sampai sekarang masih menganggap itu adalah kebenaran, namun tidak denganku. Kau harus tau Mar, kalo ternyata buku sejarah itu karangan fiktif orde baru, untuk menghilangkan kesan baik apapun terkait PKI di masyarakat. Sehingga pak Harto bisa langgeng berkuasa. Kalau kau tidak percaya, nanti aku kirimi buku-bukunya, kau harus baca itu. Bukan berarti aku simpatisan atau membela PKI, tapi kau harus tau, ini tentang membongkar kebohongan yang kejam. Selain itu, sistem pembelajaran sejarah itu sangat tidak mencerminkan penghargaan akan indahnya perbedaan dan keberagaman.
Ah, sistem pendidikan sekolah umum ini aku tak habis pikir Mar, kenapa mereka tidak mau mencoba belajar dan mengakomodasi sistem pesantren. Malah mengikuti sistem pendidikan gak jelas, yang akhirnya menelurkan benih-benih intoleran dan radikalisme, bahkan mengancam persatuan negara kita. Lihat saja bentrokan antar SMA itu. Kau pasti tidak rela kalau negeri ini hancur, karena kakekmu yang kyai itu juga termasuk komandan pasukan Hizbullah, pembela NKRI. Kau harus tau, islam radikal lahir bukan dari pondok pesantren, melainkan siswa-siswa di sekolah umum yang tersesat ketika berkuliah, yang merasa paling islam ketika berdialog dengan istilah ‘ana’ dan ‘antum’. Mereka tidak tau bagaimana sistem pondok pesantren berjalan, meskipun mengkaji kitab-kitab berbahasa arab, pesantren mengkajinya dengan konsep maknani dengan bahasa jawa/sunda pegon. Sangat menghargai budaya bukan? 
Sepertinya hanya mimpi ketika melihat menteri pendidikan mengadopsi sistem pesantren untuk diterapkan sekolah umum. Bisa-bisa, kemandirian dan kedaulatan Indonesia akan tercapai, hingga Tenaga Kerja kita di luar negeri itu bukan menjadi babu rumah tangga, tapi menjadi Tenaga Kerja yang sangat dibutuhkan dari sisi intelektualitas. Huft, Sepertinya aku terlalu berkhayal mar, hehe.
Sudah dulu ya Mar, kapan-kapan aku kunjungi kamu. Sukseslah dalam pengabdianmu. Kabarnya kau sudah dapat restu untuk menikahi Dina. Kalau memang begitu, aku ucapkan selamat dan Alhamdulillah untuk kau dan Dina. Jangan lupa mengundang sahabatmu ini. Oh iya Mar, sekarang hari santri, ayo sama-sama kita ramaikan peringatan itu, dengan doa dan aksi bersama. Semoga Indonesia bisa lebih baik kedepan, sehingga anak-anak kita kelak bisa menuai hasilnya dan menikmatinya.


Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thorieq
Wassalamu’alaikum Wr.Wb


Sahabatmu,
Bejo

Friday, 21 October 2016

Belajar Trisakti dari Debu Pasar

15:38 Posted by Bbhj , , , No comments
Segarnya debu pasar
Sudah menjadi realita umum, bahwa santri/mahasiswa yang sedang libur dan pulang ke rumah, tidak akan banyak bersenang-senang. Mereka dalam kesehariannya akan banyak membantu pekerjaan orang tua. Berdagang, bertani, ber-PNS, dan lain-lain. Jika anak seorang PNS, minimal bantu-bantu tanda tangan. Entah tanda tangan berkas LPJ proyekan, atau nulisi nota-nota kosong yang bisa ditukar dengan uang negara. Eh, Sori kalo ada anak PNS yang tersinggung, soalnya saya bukan anak dari seorang PNS, jadi saya nulis tentang PNS setau saya dari berita di tipi-tipi.

Kalo saya ini seorang anak pedagang. Jadi dari pada ruangan kantor ber-AC, saya lebih tau ruang besar pasar yang berdebu. Macam nama stadion klub Real Madrid itu, Santiago berdebu. Katanya, stadion milik madrid itu mau di renovasi, dengan biaya triliunan. Ah, berapapun biayanya tidak penting bagi saya yang bukan fans Madrid, dan tidak ada hubungannya dengan debu pasar.

Setiap liburan tiba, sudah pasti saya akan lebih sering ikut membantu orang tua di pasar. Meski diakui, sejak dulu saya seringkali malas untuk ikut. Ini kan liburan, kenapa mesti kerja juga? Begitulah logika anak kecil bekerja, termasuk saya dulu. 

Dalam renungan di pasar kali ini, saya memahami suatu hal, bahwa debu pasar yang sering saya hirup itu mengandung banyak pelajaran berharga. Jika debu pasar itu dianalisis di laboratorium menggunakan suatu instrumentasi, akan muncul spektra-spektra yang menggambarkan kehidupan.

Debu pasar itu, memberikan sebuah gambaran yang menarik dalam hidup. Konsep kedaulatan politik, Ekonomi berdikari dan karakter budaya ala Trisakti Bung Karno ada didalam kehidupan dan realitas sosial di pasar berdebu itu. Pedagang itu membeberkan semua yang ia miliki untuk para pembeli. Membangun sistem dan budayanya sendiri dan memiliki skala prioritas dalam penjualan, ini untuk pelanggan, ini untuk yang hanya satu sampai dua kali belanja dalam setahun. Mana yang boleh berhutang, mana yang tidak boleh berhutang. 

Logikanya bermain demi kedaulatan politik bisnisnya. Pikirannya mengkalkulasi dalam proses tawar menawar harga, dimana harga yang disepakati adalah harga yang menguntungkan kedua belah pihak. Otak kanannya bermain demi membentuk sistem perdagangan yang akomodatif dan efektif. Sehingga dikemudian hari, si pembeli akan mudah mengenal si pedagang itu, dengan kekhasan budaya dan sistem jual belinya. 

Dan yang paling mencolok dari hasil interpretasi spektra debu pasar tadi, adalah peran negara dan pemerintahannya. Yang terlihat, aparat-aparat negara, hanya memiliki kapasitas untuk sekedar meminta 2000 rupiah dari setiap pedagang di pasar itu, yang katanya untuk retribusi pasar. Atau 50.000 yang katanya untuk THR, sebagai bayaran jasa untuk aparat yang telah menjaga pasar itu tetap berdebu. Padahal, tanpa aparat, debu pasar akan tetap terhirup oleh kami.

Aparat negara, sama sekali tidak terlihat untuk berupaya membangun sistem kelola pasar yang baik. Seharusnya, dengan tawaran konsepnya, aparat negara bekerja sama dengan para pedagang guna menciptakan kondisi pasar yang memiliki tata kelola yang nyaman di kunjungi dan dipakai tempat jual beli. 

Ah, itu hanya mimpi, kita lihat saja dalam lingkup yang lebih luas. Berbicara trisakti bung karno, pemerintahan kita ini semacam masih berdebat atas tafsir yang benar atas trisakti. Padahal, nusron sendiri sudah bilang, yang mengerti betul artinya trisakti bung karno ya bung karno sendiri, bukan orang lain. Jadi, kalo mau tau maksudnya, tanya bung karno. Atau daripada debat kusir, pemerintah ini belajar saja sama mufassir trisakti yang sudah paham dan sudah bisa merealisasikan, para pedagang di pasar berdebu itu. Dimana dia tau, kalau yang namanya bagi hasil yang baik itu saling menguntungkan satu sama lain, ibarat sama-sama dapat 50:50, atau 60:40, atau bahkan 70:30. Bukan hanya dapat 3% dari total keseluruhan, sedangkan 97% nya diberikan ke salahsatu pihak. Woy, 97:3 itu bagi hasil macam apa? Itukah ekonomi berdikari dan kedaulatan politik yang dicita-citakan? Nanti ditanya sama Mbah Jiwo Jancuk dari Republik sebelah, IQ? IQ?

Eh, kok Sujiwo Tedjo? Waduh, ternyata saya lupa, kalo saya melamun terlalu lama, membayangkan bung karno masih ada. Sekarang tahun 2016, Gagasan Trisakti sudah usang, Trisakti sekarang hanya jadi nama kampus yang pernah digunakan syuting film Pupus. Sekarang presidennya Jokowi. Gagasannya Nawa Cita. Hari ini adalah hari dimana beliau menjabat genap 2 tahun pemerintahan. Saya tak begitu paham isi nawa cita, paling isinya janji-janji. Tapi kan 89:11 dan 97:3 bukan angka yang rasional untuk seorang pedagang di pasar berdebu. Pedagang itu pasti marah-marah dan bertanya sembari mengernyitkan dahi. IQ? IQ?

Pasar TG
21/10/2016
15:31

Tuesday, 18 October 2016

Hikayat Aliran Shareiyyah Komentariyyah

23:45 Posted by Bbhj , , , No comments
Oleh : Fawwaz Muhammad Fauzi

Selamat malam sahabat. Selamat Malam Madiun, Kereta yg mengantarkan saya pulang kebetulan sudah sampai Madiun, Kota yang namanya saya kenal dari Buku Sejarah SD/SMP/SMA tentang pemberontakan PKI dulu. Sekarang saya kebetulan berkuliah di Malang, Kota yang satu provinsi dengan Madiun. Karena secara geografis cukup dekat, maka tak heran kalau teman-teman saya di Malang, ada yg berasal dari madiun. Pertama kali melihat mereka, teman-teman madiun saya itu, saya sama sekali tak melihat ada wajah-wajah pelaku atau korban pemberontakan PKI dulu. Mereka tampak baik-baik saja, tetap guyon dengan saya yang secara biologis berdarah Nahdliyyin ini.
Mereka mungkin terlihat baik-baik saja karena memang tidak mengalami masa pemberontakan itu. Itu sudah lama sekali. Katanya, pelaku 1948 juga sudah diadili, rekonsiliasi sudah dilakukan. Berbeda dengan tragedi 1965, yang sampai hari ini, tuntutan korban belum terpenuhi, tindakan diskriminatif terhadap "terduga" PKI juga masih banyak terjadi, pembredelan diskusi pengungkapan tragedi itu juga masih sering saya jumpai. Kata salah seorang yg pernah saya temui, kalo mau ngobrol terkait PKI, harus pintar mem-framming acara, jangan sampai lebay meng-share info diskusinya. Kalo terlalu lebay, tamatlah kau ditangan intel.
Berbicara mengenai kata "Share", hari ini sudah sangat familiar. Bagi pemakai media sosial Facebook di Android, kata share ada di pojok kanan bawah setiap status. Kalo facebook sahabat-sahabat pembaca berbahasa indonesia, tidak akan ditemui tulisan "Share", kata "share" diganti dengan kata "Bagikan". Meskipun berbeda, artinya sama saja. Jangan sampai karena saya lebih sering menggunakan kata "share" dibandingkan kata "bagikan", sahabat-sahabat share tulisan ini dengan kutipan berikut : "Tulisan ini adalah tulisan antek Amerika, agen CIA, anti-nasionalisme, karena lebih sering menggunakan kata SHARE, daripada kata BAGIKAN." Lha wong saya ini orang biasa, kok disebut agen, bahkan untuk disebut agen of change ala mahasiswa pun, saya belum pantas.
Sebenarnya begini lho, Saya hanya sedikit ingin bercerita tentang suatu hikayat, suatu waktu, saya melihat status yang berisi tautan yang provokatif. Begini tulisannya, "#&$(_/)&!@:;$(#!_;@))?;;™℅€{}•¶¢[£℅°=¥{¢}¶=√∆∆\[]℅©™®£[~{.". Aduh, saking banyaknya saya lupa, intinya, ada 3 jenis status yang akan ramai di media sosial macam FB di Indonesia, Pertama, status yang meminta Like, share dan Amin, Kedua, status Jonru, cs., Ketiga, status yang mendukung karepe mayoritas, apapun dan bagaimanapun isi kontennya. Entahlah, saya gak paham betul caranya membagikan jenis/kategori, yang pasti, status-status itu biasanya di-share hingga ribuan kali, komentarnya bisa sampai puluhan ribu. Komentarnya pasti macam-macam, ada yang ngomong "BANGSAT, JANCUK, ANJING LU, AGAMA LU APA TAI!", ada juga yang mencoba menengahi dan moderat, "Udah bro, gak usah diladenin orang GAK PUNYA OTAK kayak dia, otaknya udah ketuker sama BABI dia mah", ada lagi yang imannya paling lemah, alias adh'aful iman, nama fb nya hanya muncul diatas postingan "Hindun menyukai status Zaidun. Nah, Zaidun lah imam aliran shareiyyah dan komentariyyah, dialah Assabiqunal Awwalun statusnya dengan menuliskan "INDONESIA DALAM CENGKRAMAN SYIAH, KITA SEBAGAI UMAT MUSLIM JANGAN HANYA DIAM!", Dibawahnya terpampang tautan yg bertuliskan "QURAISY SYIHAB SEBARKAN PAHAM SYIAH DALAM SETIAP CERAMAHNYA". Dengan bangganya, zaidun meng-share statusnya, dengan harapan, banyak orang yang mengikutinya, masuk ke dalam surga versi si Zaidun. Padahal, si Zaidun hanya mendapat berita itu dari website alamak.xyz, waduh! Situs opo iku? Belum lagi, ternyata si Zaidun ini gak pernah mesantren. Pernah sih, katanya dia belajar ilmu agama di Rohis, sebutan Ekskul keagamaan di SMA-SMA. 
Alhamdulillah nih, setiap status si zaidun sekarang sudah ribuan yang share, dan puluhan juta yang komentar. Sehingga, dia mendapat gelar "Imam Asshareiyyah Wal Komentariyyah" Pemimpin alirah Shareiyyah Komentariyyah. Selain si Zaidun, masih banyak imam-imam lain dari aliran ini, jumlahnya ribuan.
Ada lagi cerita Imam aliran Shareiyyah dan Komentariyah selain zaidun, kiprahnya juga cukup luar biasa dibanding Zaidun. Penasaran? Siapa dia? Bagaimana kiprahnya? (JANGAN) DITUNGGU KELANJUTANNYA! Karena kelanjutannya adalah realitas praktek bermedia dan besosial kita, termasuk saya. 

Wallahua'lam.

Kereta Malam, 18/10/2016
23.11 WIB

Monday, 29 August 2016

PROKLAMASI BUNG KARNO 2016

01:46 Posted by Bbhj , , , 1 comment
instagram @sabdaperubahan 
Saya terhenyak membaca puisi ini. Meski sudah berulang kali saya membaca, hati saya tetap berdebar, sementara otak ini terus berpikir, sebegitu hancurkah negeri ini? Puisi ini adalah buah karya seorang senior saya di suatu organisasi. Sejujurnya saya kagum dengan puisi ini. Begitu merepresentasikan kondisi negeri ini, dengan berbagai problem disudut sana dan sini.
Siang tadi, saya diberi kesempatan untuk memberikan materi dalam sebuah acara. Malamnya, saya membuat materi untuk acara tersebut, dan saya memasukkan puisi ini ke dalam slide presentasi saya, tepatnya untuk menutup presentasi saya. 
Di akhir acara, saya benar-benar membaca puisi tersebut. Saat itu adalah saat dimana saya membacakan sebuah puisi di depan umum sejak TK. Lalu apa hasilnya? Saya tidak tau apa yang dirasakan peserta forum tersebut, tapi yang pasti, badan saya bergetar! Hati saya bukan lagi tersentuh! Tapi benar-benar disentuh, bahkan serasa di tusuk lara yang hebat. Sungguh puisi yang luar biasa!
Sebelumnya mohon maaf kepada senior saya, karena tanpa izin, saya menggunakan puisi njenengan dalam presentasi saya. Tapi tenang saja, saya bukan plagiator, saya tetap cantumkan nama panjenengan. Meski tetap, saya masih terbilang TIDAK SOPAN, tidak izin dulu.
Nah, tapi saya malah tambah TIDAK SOPAN, sekarang saya ingin memposting puisi ini di blog saya. Dengan harapan, tamu-tamu blog ini bisa juga membacanya dan terilhami oleh isi puisi ini untuk melakukan sesuatu. Sopan atau tidak, saya yakin ini adalah sebuah langkah yang bermanfaat, jadi mungkin ketidaksopanan itu akan sedikit tertutupi. :-)
Yah, ini lah puisi nya, Selamat membaca puisi reflektif dalam Sahabat Em Yasin Arief.

PROKLAMASI BUNG KARNO 2016
Oleh : Em Yasin Arief

Bung Karno bangkit dari kubur
Dia haus ingin minum
Ku suguhkan air mineral
Dia hanya bingung tak mau minum
Karena tanah airnya tinggal tanah
Sedang airnya milik Prancis sudah
Ku seduhkan segelas teh celup
Dia hanya termenung tak mau minum
Karena kebun tehnya tinggal kebun
Lahan tebunya tinggal lahan
Gulanya milik Malaysia
Tehnya Inggris yang punya
Lalu ku bukakan susu kaleng
Bung Karno hanya menggeleng
Kandang sapinya tinggal kandang
Sedang sapinya milik Selandia
Diperah Swiss dan Belanda

Bung Karno bangkit dari kubur
Dia lapar ingin sarapan
Ku hidangkan nasi putih
Dia tak mau makan hanya bersedih
Karena sawahnya tinggal sawah
Lumbung padinya tinggal lumbung
Padinya milik Vietnam
Berasnya milik Thailand
Ku sulutkan sebatang rokok
Dia menggeleng tak mau merokok
Tembakau memang miliknya
Cengkehnya dari kebunnya
Tapi pabriknya milik Amerika

Bung Karno bingung bertanya-tanya
Sabun pasta gigi, kenapa Inggris yang punya
Toko-toko milik Prancis dan Malaysia
Alat komunikasi punya Qatar dan Singapura
Mesin dan perabotan rumah tangga
Kenapa dikuasai Jepang, Korea dan China
Bung Karno tersungkur ketanah
Hatinya sakit teriris-iris
Setelah tau emasnya dikeruk habis
Setelah tau minyaknya dirampok iblis
Bung karno menangis darah
ndonesia kembali terjajah
Indonesia telah melupakan sejarah

Bung Karno membaca Proklamasi
Kami bangsa Indonesia,
Dengan ini menyatakan
Ketidak-merdekaan Indonesia. 
Hal-hal mengenai penindasan
Dan kekuasaan asing,
Telah terlaksana sudah lama,
Dengan cara seksama,
Dan dalam tempo
yang tak dapat dikira-kira.

Tujuh Belas Agustus,
Dua Ribu Enam Belas.


- Malang, 07 Agustus 2016

Wednesday, 27 July 2016

Si Penerawang Pencuri yang Menerawang ke Awang-Awang

00:53 Posted by Bbhj , , No comments
sumber : http://sofyanruray.info/
Assalamualaikum, Selamat Malam, Salam sejahtera bagi kita semua, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT serta eksis dalam menjalani kehidupan sehari-hari (ko pembukaannya ala-ala surat resmi ya?). Kali ini penulis hanya ingin sekedar menceritakan pengalaman pribadi penulis dalam suatu kejadian yang cukup lumrah terjadi dimana-mana. Namun, semoga kejadian yang lumrah ini tidak menjadi kejadian yang membudaya dalam kehidupan bersosial, karena seringkali kejadian ini menimbulkan fitnah.
                Setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan atas barang pribadinya. Barang pribadi yang dimaksud disini bukan barang yang ada 15 cm dibawah udel mu lho, tapi barang-barang seperti handphone, laptop, sepeda motor, pulpen, bahkan sesuatu yang kecil namun menimbulkan fitnah besar diantara sahabat, KOREK GASOLIN. Sebagai manusia yang manusiawi, kehilangan barang pribadi pasti menimbulkan efek psikologis terhadap diri pribadi, apalagi seperti penulis yang segala keperluan hidupnya masih nebeng orang tua. Sulit rasanya mengikhlaskan kehilangan barang pribadi, apalagi yang paling disukai dan dibutuhkan. Meski dalam ucap kita berkata, “ya wes lah, guduk rizki ne paling”, tapi dalam hati, tetap berharap barang itu kembali. Sehingga, setelah barang tersebut hilang, seseorang yang kehilangan biasanya berikhtiar terlebih dahulu untuk mencarinya sebelum akhirnya secara terpaksa mengikhlaskan (ikhlas ko terpaksa?) kepergian barangnya, sekali lagi, bukan barang yang dibawah udel, CAMKAN!
                Ikhtiar yang dilakukan bermacam-macam, ada yang lapor ke pihak berwajib, ada pula yang melapor ke pihak yang bersunnah macam kelompok cingkrang dan jenggot panjang (eh...). Bahkan, untuk perkara seperti ini pun, ada yang melapor ke Kyai, Ustadz, Dukun, bahkan orang yang dianggap bisa menerawang pelaku penghilangan paksa barang pribadi tersebut.
Menjaga barang pribadi dalam konteks agama Islam adalah kewajiban. Sesuai dengan maqashid asy-syar’iyyah (tujuan syari’at), bahwa hifdzul maal (menjaga harta) adalah harus diupayakan, sehingga salah satu tujuan syariat pun salahsatunya adalah untuk menjaga harta/barang pribadi kita. Seringkali ayah dari penulis memberikan nasihat bahwa harta yang kita miliki adalah milik Allah, maka wajib kita menjaga titipan Allah tersebut dengan baik. Begitulah bagaimana Islam dengan syariatnya mencoba melindungi hak dasar individu para pemeluknya dalam konteks melindungi hartanya, sehingga ada syariat/aturan tersendiri bagi pelaku pencurian termasuk hierarki yang harus dilalui dalam mengusut tuntas kasus pencurian. Pun Indonesia sebagai negara hukum, memiliki aturan-aturan yang jelas terkait sanksi atau pidana bagi pelaku pencurian termasuk hierarki atau sistematika pengusutan kasus pencurian.
Dari uraian diatas, penulis mengambil sebuah intisari penting bahwa ketika kita kehilangan barang berharga milik pribadi, gunakanlah aturan-aturan yang ada untuk mengusut kasus tersebut, sehingga ikhtiar kita selaku korban kehilangan tidak kemudian menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti fitnah dan grundel dalam hati. Apabila ingin dibantu pengusutannya oleh kepolisian, silahkan melapor ke kepolisian, apabila ingin diusut secara kekeluargaan, silahkan diusut secara kekeluargaan dengan hierarki dan sistematika pengusutan yang konkrit hingga terdapat saksi, barang bukti, dan alat pendukung lainnya.
Ikhtiar/upaya yang baik dalam menuju suatu pencapaian wajib dilakukan. Penulis masih ingat nasihat kyai saat masih belajar di pesantren, bahwa sesuatu yang baik apabila dicapai dan diupayakan dengan jalan yang tidak baik, maka hasilnya akan menjadi tidak baik. Begitupula dengan kasus pencurian, korban kehilangan harus pula berupaya mencari pelaku pencurian dengan cara yang benar/baik, yakni dengan sistematika dan regulasi yang benar. Dan yang terpenting adalah bagaimana konsepsi pengusutan tersebut dilalui dengan proses yang konkrit dan terbuka, bukan dengan sistem yang ngawang dan tidak jelas alias ghoib sehingga menimbulkan ambiguitas yang berkepanjangan.
Seringkali penulis menemukan korban-korban pencurian barang-barang yang cukup bernilai mencari jalan pintas dengan cara melapor ke orang yang dianggap bisa menerawang si pencuri. Mereka menganggap hal ini bisa secara praktis dan cepat memberikan jawaban kepada korban terkait identitas si pencuri. Kekuatan gaib yang dimiliki si penerawang tersebut dianggapnya mampu menemukan si pencuri. Namun, dalam pengamatan penulis selama hidup di dunia ini, tidak ada satupun kasus pencurian yang mampu diusut tuntas dengan teknik gaib ala si penerawang, yang ada si penerawang ini hanya memberikan jawaban yang ngawang alias tidak jelas, seperti “pencurinya tadi lari ke arah lor”, “pencurinya mungkin tetangga”, “pencurinya sepertinya masih sodara sama kamu”, “kamu sering berbicara dengan si pencuri di warung kopi, tapi tidak tahu”, “ciri-cirinya hidungnya pesek, perawakannya pendek dan hitam”, “kemungkinan besar, si pencurinya adalah orang yang satu kontrakan”, begitulah kira-kira jawaban yang sering penulis dengar dari korban yang mengadu kepada si orang pintar, ahli menerawang.
Sepintas, hal ini tidak menjadi masalah, wajar dan maklum saja ikhtiar seperti ini di kalangan kita, namun tidakkah sahabat-sahabat melihat ada potensi fitnah dari statemen-statemen dari si penerawang tersebut? Terdapat statemen yang secara jelas mencoba menuduh dan memfitnah tetangga, teman satu kos, bahkan saudara sendiri tanpa proses pengusutan yang jelas dan sistematis! Ini adalah sebuah problem sosial yang sederhana, namun berdampak luas bagi interaksi sosial. Semisal si Komar dan si Kardun adalah teman satu kos, kemudian handphone si Komar hilang, setelah itu, si Komar mengadu kepada seseorang yang dianggap bisa menerawang pencuri, lalu si penerawang berkata bahwa pencurinya kemungkinan besar adalah teman satu kosnya sendiri. Secara sederhana, pastilah si Komar di dalam hatinya akan menuduh si Kardun sebagai pencuri handphone nya, padahal si Kardun tidak pernah mengambil handphone si Komar, dan pada akhirnya, si Kardun mengetahuinya dari orang lain bahwa si Komar menuduhnya mencuri, dan merengganglah persahabatan keduanya. Meski sejatinya si Kardun tidak mencuri, tapi beban di hatinya membuat dia enggan berteman dengan si Komar lagi karena tidak diterima dituduh pencuri, dituduh dari belakang pula. Penulis berpikir alangkah besarnya dosa si penerawang yang karena statemennya, suatu ikatan pesahabatan menjadi renggang. Entahlah, dosa atau tidak dosa, itu urusan Tuhan. Namun yang patut digarisbawahi dari kasus ini adalah, apakah jalan macam ini adalah jalan yang waras yang bisa ditempuh korban pencurian dalam mengusut kasus pencurian? Penulis menegaskan bahwa ikhtiar seperti ini adalah ikhtiar yang TIDAK WARAS! Rasulullah tidak pernah mengajarkan sistem seperti ini, pun secara kontekstual, Rasulullah malah mengajarkan ikhtiar yang lebih waras melalui syariah jinayaat, mungkin yang melakukan hal-hal diatas perlu mengkaji kembali bagaimana tuntutan Rasulullah terkait bab jinayat, sehingga kembali ke jalan yang benar.
Penulis sebagai pemeluk agama islam percaya pada hal-hal ghoib. Malaikat dan Jin merupakan hal yang ghoib dan benar adanya, namun kepercayaan tersebut tidak terbangun atas dasar menduga-duga saja yang kemudian menimbulkan ketidakjelasan dan fitnah, namun dibangun atas dasar pondasi keilmuan yang jelas, melalui ngaji kitab-kitab teologis macam aqidatul awam, tijan addarory, jawaahirul kalamiyah, addasuqy ummu barohin, dll. Penulis tidak menafikan bahwa ada orang-orang yang memiliki kemampuan diatas orang normal, seperti mampu melihat jin, melihat malaikat, dan melihat hal-hal gaib lainnya. Namun, penulis secara pribadi menyarankan kepada sahabat-sahabat, ketika problem yang dihadapi adalah terkait interaksi terhadap manusia (hablumminannas), selesaikanlah di alam manusia, tidak perlu melibatkan alam gaib, jika memang ingin melibatkan sesuatu yang gaib, memintalah pertolongan kepada Dzat Sang Maha Ghaib, yakni Allah SWT, karena itulah yang benar, bukan malah meminta bantuan si penerawang yang menerawang ke awang-awang dan masih ngawang.
Mohon maaf apabila ada kata yang salah, karena penulis pun masih dalam proses belajar dan terus mencoba memperbaiki kesalahan, dan mohon maaf apabila ada yang tersudutkan oleh coretan ini, penulis hanya ingin mengutarakan suatu hal yang menurut penulis penting untuk disampaikan. Semoga kita semua terhindar dari fitnah sewaktu hidup dan fitnah setelah meninggal dunia, serta fitnah kubro dajjal. Amin. Wallahu’alam.

Wassalamualaikum.


Malang (Kosan Konco), 27/07/2016 01.10 WIB